Selasa, 30 Juni 2015

Cerpen Cinta : MENANTI DIRIMU

Selasa, 30 Juni 2015





Cerpen Cinta : 
MENANTI DIRIMU



Cerpen Cinta Menanti Dirimu
Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi kau masih peduli kepadanya. Ketika dia meninggalkanmu kau masih setia menunggunya.

Sudah 6 tahun kujalani hari-hariku bersama dia. Suka, duka, canda tawa dan tangis aku slalu bersamanya. Harris adalah sosok yang sangat berharga bagiku dan tak bisa tergantikan. Dia slalu menjaga, mencintai dan menyanyangiku sepenuh hati dan slalu menemaniku dengan senyuman manisnya itu. Dia slalu ada untukku, kapanpun dan dimanapun aku berada. 

Harris adalah sosok yang ulet, rajin dan cerdas. Tidak heran dia mendapatkan beasiswa di luar negeri. Harris memilih Amerika Serikat sebagai tempat untuk melanjutkan studinya. Mau tidak mau Harris akan meninggalkan aku sendiri dengan cinta kita berdua. Aku tidak bisa sesering lagi melihat senyumannya yang biasa menghiasi setiap waktuku.

Hari ini adalah waktu keberangkatan Harris. Disinilah keutuhan dan kekuatan cinta kami di uji. Waktu dan jarak akan menjadi saksi. Di dalam taksi aku mengantarkan Harris ke bandara. Aku hanya terdiam membisu. Perasaan sedih dan takut menghantuiku. Selama ini aku tak pernah jauh sama dia namun aku harus di pisahkan oleh ruang dan waktu.

Detik-detik perpisahan sudah semakin dekat. Aku tak dapat membendung air mataku dan perasaanku menjadi tidak menentu. Aku yakin Harris juga merasakan hal yang sama. Dengan kehangatannya dia menenangkan,menguatkanku agar dapat menerima semua kenyataan ini. Dan juga dia menyakinkanku bahwa jarak dan waktu bukanlah masalah, melainkan kesetian cinta diantara kami berdua yang harus tetap kokoh dan kuat.

               “Berjanjilah untukku bahwa kau akan setia menjaga cinta kita ini.”Ucap Harris sambil mengusap air mataku yang sejak perjalanan tadi tidak berhenti.

               “Aku janji, dan aku akan setia menunggumu.”Ucapku singkat sambil memeluknya. Dan tangisku pecah. Semua terasa berat, seakan ini tak adil bagi kami berdua. Di belainya rambutku seraya agar aku tetap tenang dan tegar.

Ia pun menggenggam kedua tanganku dan menatapku dan berkata :
               “Aku janji akan menjaga semua ini, dan aku akan kembali seperti sekarang ini dan membawa kembali cinta kita berdua.”Kata Harris padaku.

Sejenak kami berdua diam, membiarkan hati kami berbicara. Perlahan aku mulai melepaskan genggamannya dan dikecupnya keningku dengan penuh cinta olehnya.

               “I Love you”,” I love you too”. Kata singkat yang hanya dapat mewakili semua perasaan kami berdua. Dia pun melangkah dan mulai meninggalkanku.

Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam membisu dan sesekali air mataku berlinang.
********************<<<<<<>>>>>>***********************

Waktu bergulir dengan cepatnya. Tak terasa sudah 1 tahun 5 bulan, hubungan kami berjalan dengan baik tanpa ada rintangan. Hanya saja perasaan rindu yang slalu menyiksa hati ini. Tapi tidak sama halnya dengan Harris tak tahu mengapa suatu hari ia menyuruhku untuk melupakannya dan mencari penggantinya.

Sebenarnya tak ada masalah diantara kami berdua. Ia menyuruhku mencari penggantinya karena takut kalau aku kesepian dan ternyata ia telah membagi cintanya dengan teman kuliahnya di Negeri Paman Sam itu.

               “Ra, maafin aku telah membagi cintaku kepada orang lain dan tolong lupakan aku karena aku telah mengkhianatimu.”Ucap Harris di telfon.

Aku tak dapat berkata, hati sakit teriris oleh luka yang ia beri padaku. Harris yang aku kenal dulu kini telah berubah. Harris dulu sangat sayang dan slalu menjagaku tidak pernah membuat hatiku sakit, kini ia telah berbeda. Sekarang aku berdiri tanpa pegangan dan aku bersandar tanpa sandaran.
Waktu terus berlalu, tidak ada sama sekali kabar dari Harris. Semenjak pernyataan itu ia tidak mau lagi mendengarkan kata-kataku lagi dan tak pernah lagi ia menjawab sms, e-mail bahkan pesan di facebook. Aku merasa sangat sedih dan kecewa. Aku sama sekali tidak bisa melupakannya dari kehidupanku. Dan aku meninggalkan pesan terakhir di e-mailnya :

               “ Ris, cintaku padamu tidak akan pernah berubah dan aku akan setia menunggumu sampai saat ini dan jika nanti memang kau bukan milikku baru aku akan rela melepaskanmu untuk bahagiamu.

Setelah itu kuputuskan untuk tidak mengganggunya dan menghubungi dia lagi walau ada rasa kerinduaan di hati ini. Aku sibukkan diriku agar dapat sejenak melupakan Harris. Banyak teman cowokku yang mendekatiku namun sosok Harris sulit digantikan oleh orang lain.

Waktu terus berputar tanpa ku sadari sudah 3 tahun aku telah berpisah dengannya. Aku gelisah ingin sekali ku mendengar suaranya, melihat senyuman dan mengetahui kabar beritanya. Kapan dia akan kembali kepadaku dan apa ia masih berhubungan dengan gadis itu ? Entahlah aku tak dapat berbuat banyak, yang hanya dapat ku lakukan hanyalah setia menunggunya.

Dan suatu hari tiba-tiba….

               “Drreettt…..drrreettt….”Hpku bordering tanda sms masuk.

Kubuka perlahan membuka pesan itu dan ternyata itu sms dari Harris. Ingin rasanya ku menangis dan kubaca ulang pesan itu baik-baik untuk menyakinkan. Aku merasa seperti bermimpi.

               “Ra….. Apa kabar..”sms singkat Harris.

Rasanya ku ingin berteriak pada dunia agar dunia tahu aku sangat bahagia. Dan cepat ku membalas sms itu.

               “Ris… aku baik-baik ajha. Kamu bagaimana ? Kapan pulang ? Aku kangen banget sama kamu. Aku akan tetap menunggumu sampai kamu pulang.

Ku tunggu balasan darinya, namun ia tak membalas. Aku kian gelisah dan air mata selalu mengurai semua perasaan yang kurasakan.

Hingga suatu hari ku memberanikan diri untuk menelfonnya. Aku sudah bertekad untuk mendapat semua penjelasan darinya.

               “Ris..” Hanya kata itu yang terucap dari bibirku.

               “Ra, maafin aku, karena aku sudah mengkhiatimu dan menghancurkan cinta kita berdua. Maafin aku.”Ucap Harris padaku.

Kata-kata itu membuatku terharu dan meneteskan air mata. Hingga ku tidak bisa berkata-kata.

               “Dan satu hal lagi sayang… aku sudah tidak bersama gadis yang aku pilih itu. Dia malah balik mengkhianatiku dan pergi bersama laki-laki lain. Jadi, sekarang aku baru merasakan hal yang sama waktu aku memutuskanmu dulu. Maafin aku, mungkin ini sudah terlambat.” Ujarnya.

               “Ris.. aku masih seperti dulu yang masih setia menunggumu dan tidak ada yang bisa menggantikanmu.”Kataku.

Sejak saat itu kuputuskan untuk menjalin lagi hubungan cinta bersamanya yang dulu pernah kandas di tengah jalan. Dan dia berjanji tidak akan meninggalkanku lagi. Aku sangat senang dan merasa bahagia. Tinggal 3 bulan lagi kedatangan Harris dan kami berdua akan melangsungkan pernikahan. 

Akhirnya penantianku berbuah manis. Pernikahan ? menikah dengan orang yang kucintai. Rasanya seperti mimpi.

Hari ini adalah hari kepulangan Harris dari Amerika Serikat. Aku dan kedua orang tua serta adik Harris menuju bandara untuk menyambut kedatangan Harris. Sebelum berangkat Harris sempat smsan sama aku.

               “Yank… aku senang akhirnya aku bisa pulang dan bisa melihatmu lagi jika di beri kesempatan, aku cinta kamu.”Ucap Harris menutup hpnya karena pesawat akan lepas landas.

Perasaan gembira menjadi duka dimana saat petugas bandara memberitahukan pesawat penerbangan AS-INA dinyatakan hilang. Teriak tangis memenuhi ruang tunggu.

Aku sontak kaget karena itu adalah pesawat yang ditumpangi Harris. Aku tak dapat membendung air mataku, badanku lemas bagai di sambar petir dan aku tak sadarkan diri.

Saat ku siuman ternyata aku sudah ada di rumah sakit. Aku hanya dapat meratapi kejadian ini

                “Ya Tuhan, mengapa kau buat aku begini ? Dan mengapa kau ambil dia dari sisiku ? Kenapa bukan aku saja ?”Ucapku sambil menangis.

Ibu dan adik Harris memelukku agar aku bisa tenang dan tabah menerima semua ini.

Sudah 1 minggu bangkai pesawat yang ditumpangi belum ditemukan sampai sekarang. Hal itu membuatku tidak mampu menghadapi semua ini serasa aku ingin mengakhiri hidup ini. Apa aku bias hidup tanpamu ? Tak pernah terfikir olehku kau akan pergi tinggalkan ku sendiri. Semua tinggal kenangan yang hanya bisa ku kenang.

Aku berharap mudah-mudahan kau tenang di sana.

               “Selamat Jalan Kasihku Harris, aku yakin kau bahagia di sana.”

Tamat

Oleh : Rahmawati Dewi
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

Cerpen Kasih Sayang : OH, BUNDA!

Selasa, 30 Juni 2015





Cerpen Kasih Sayang : 
OH, BUNDA!



Rintik-rintik hujan akhirnya mulai turun, membasahi kota Jogja. Mendung yang sedari tadi menggelayut, kini mulai memuntahkan isinya. Beberapa pengendara motor mulai menepikan kuda besi mereka untuk sekedar berteduh ataupun memakai jas hujan. Dinginnya air hujan rupanya tak mampu mendinginkan panasnya hati Ava. Tanpa memedulikan tangannya yang mulai kebas akibat sengatan hawa dingin dan bajunya yang basah kuyup, Ava terus menggeber Astrea Grand-nya menuju kearah barat daya, tepatnya menuju kearah alun-alun utara keraton. Ditebasnya jalanan dengan sangat lincah, tak peduli dengan orang-orang yang mengumpat saat terkena cipratan air dari motornya. Pikirannya sangat kalut. Lalu tanpa diinginkannya, Ava kembali mengingat peristiwa yang membuat hatinya sangat marah itu.

***

“ Bun, uang buat bayar kuliah semester ini mana?” tanya Ava pada ibunya yang sedang menghitung uang hasil penjualan nasi pecel yang dijualnya tiap fajar di stasiun Lempuyangan. Raut muka ibunya langsung berubah. Gelisah.

“ Bunda cuma dapet segini, Le,” ucap Bunda seraya menyerahkan seluruh uang yang tadi dihitungnya. Ava agak kaget begitu menghitungnya kembali. Cuma dua ratus ribu lebih sedikit.

“ Bunda ini gimana sih? Kan aku udah minta sejak seminggu yang lalu, masak cuma segini? Kalau cuma segini, jelas nggak akan cukup.” Nada suara Ava mulai meninggi. Warna wajahnya pun mulai memerah, pertanda emosinya mulai tersulut. Bunda tahu persis hal itu. Insting seorang ibu, mungkin.

“ Tapi Bunda hanya punya uang segini, Le. Nanti kalau dagangan Bunda laris, uangnya buat kamu semua. Bu Nugroho, tetangga kita yang kaya itu, juga bersedia meminjami ibumu ini uang. Ndak usah kuatir,” ucap Bunda dengan logat khas Jogja, sembari mengelus kepala anak laki-lakinya itu, berusaha meredam emosinya. Dengan kasar, Ava menyentakkan tangan ibunya, lalu berteriak marah.

“ Bunda yang cuma tamat SMP tau apa?! Kalo besok aku nggak bayar biaya kuliah semester ini, aku bisa di-DO tau!” bentak Ava keras. Saking kerasnya, Nina adiknya, sampai keluar dari kamarnya.

“ Kakak apa-apaan sih?” tanya Nina.

Ava menjawabnya dengan ketus,” Diem kamu, anak kecil!”

“ Kakak tuh yang diem!” Emosi Nina ikut tersulut. “ Bicara sama orangtua tuh yang sopan. Malah dibentak-bentak. Dasar durhaka!”

Plak! Sebuah tamparan melayang ke pipi Nina.

“ Jaga mulutmu!” teriak Ava.

“ Kakak tuh yang jaga mulut!” Nina langsung membalas sambil memegangi pipi kirinya yang memerah akibat tamparan Ava. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sang Bunda langsung memeluk anak perempuannya. Dia juga mulai menangis.

“ Udah, udah. Jangan berantem,” kata Bunda lirih. Ava langsung beranjak pergi meninggalkan kedua perempuan itu. Sang Bunda hanya berucap pelan, berulang-ulang.

“ Astaghfirullah.”

Tak terasa, Ava telah sampai di alun-alun utara. Suasana sore itu tak terlalu ramai, hanya ada beberapa lapak pedagang yang buka. Ava memilih duduk di salah satu bangku yang kosong, tepat dibawah pohon mahoni untuk mengeringkan pakaiannya yang basah dan menghilangkan sisa-sisa kejengkelan yang masih mengndap di dasar hatinya. Beberapa pengamen jalanan memainkan alat musik mereka. Ada gitar, harmonika, kendang, dan biola. Sederhana namun tetap nikmat untuk didengar. Tiba-tiba seorang violin jalanan duduk disampingnya. Kulitnya hitam, tapi raut wajahnya jenaka.

“ Mau request lagu, Mas? Cuma seribu per lagu,” tawar si violin. Ava merogoh sakunya dan menemukan uang dua ribu rupiah. Disodorkannya uang itu pada si violin.

“ Maen lagu apa aja, yang penting enak di telinga. Kembaliannya ambil aja.”

Si violin langsung bersiap mengambil nada awal. Saat biola mulai digesek, Ava kaget. Dia tahu persis lagu itu. Tak disangka, violin itu memainkan lagu bunda karya Melly Goeslaw. Tanpa sadar, Ava ikut bernyanyi mengiringi alunan lagu.

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Air mata Ava keluar tanpa mampu ditahannya. Ia terus menangis hingga si violin selesai membawakan lagunya.

“ Kenapa, Mas? Terharu, ya? Lha wong keturunan Mozart, je! Hehehe,” canda si violin.

“ Mas sih enak masih punya motor,” lanjutnya. “ Punya rumah, punya keluarga. Pasti enak. Nggak kayak saya. Hidup pindah-pindah. Rumah nggak punya. Orangtua nggak tau dimana.”

Violin itu terdiam sejenak. “ Tapi walaupun gitu, saya tetap bersyukur kok. Syukur masih bisa makan. Syukur masih bisa maen biola. Syukur masih bisa hidup.”

Perkataan pengamen itu membuat Ava tersadar. Apa yang telah kulakukakan? batin Ava. Padahal Bunda telah bersusah payah menghidupiku, tapi aku malah membentaknya. Aku bahkan tega menampar adikku sendiri! Dasar bodoh! Ava merutuki kebodohannya. Dia menyesal, sangat menyesal telah mengasari ibunya dan menampar adik satu-satunya.

Violin itu berkata lagi,” Saya pernah didawuhi seorang Kyai. Beliau berkata,’ Untuk urusan dunia, jangan lihat ke atas, tapi lihatlah ke bawah. Lihatlah orang yang hidupnya lebih susah dari kita, supaya kita bersyukur sudah diberi nikmat lebih daripada orang lain.’ Gitu, Mas. Lho, lho, Mas. Mau kemana? Pulang?” tanyanya begitu melihat Ava bergegas menyalakan motornya. Ava ingin segera pulang ke rumah. Ke pelukan bunda.

Si violin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebingungan. “ Apa aku salah bicara, ya?”

Saat Ava telah sampai dirumahnya yang berada di kawasan Danurejan, dilihatnya sang Bunda sedang duduk di beranda. Nina duduk disamping ibunya dengan muka ketus. Begitu melihat ank laki-lakinya pulang, wanita itu segera beranjak mendekatinya. Senyum terpatri di wajah keibuannya.

“ Alhamdulillah Le, kamu sudah pulang. Udah Bunda bilang, soal biaya kuliah, kamu nggak usah kuatir.” Sambil bicara, Bunda merogoh kantong bajunya lalu menarik sebuah kalung emas. Bunda tersenyum lagi.

“ Nanti kalung ini akan Bunda gadaikan. Uangnya buat kamu semua.”

Mendengarnya, Ava semakin merasa dirinya adalah anak yang sangat durhaka. Kalung itu adalah mas kawin yang diberikan ayahnya saat menikahi ibunya dulu. Kalung yang sangat disayangi ibunya. Ia sering melihat ibunya menangis sambil memeluk kalung itu, mungkin karena teringat pada ayah yang telah lama meninggal.

“ Bunda, pokoknya jangan pernah menjual kalung ini. Soal biaya kuliah, biar nanti Ava cari sendiri.” Ava berkata sambil menahan air matanya. Bunda menatapnya dengan bingung.

“ Lho kok…” Tanpa memberi kesempatan pada Bunda untuk bertanya, Ava memeluknya dengan sangat erat.

“ Maafin Ava, Bunda,” ucap Ava lirih, lalu ia menangis dalam pelukan ibunya. Bunda hanya tersenyum kecil, lalu berujar sambil mengelus kepala Ava.

“ Ndak papa, ndak papa. Kamu ndak pernah punya salah sama Bunda. Yang penting, minta maaf dulu sama adekmu. Tadi dia nangis terus.” Ava melepaskan diri dari sang bunda, lalu berjalan menuju Nina yang terus menatapnya. Ava berlutut di depan adiknya.

“ Maafin kakak, ya?” Nina memandang kedua bola mata Ava dengan lekat, lalu tersenyum.

“ Apologies accepted,” jawab Nina, memaafkan kakaknya. Ava lalu meraih Nina ke dalam pelukannya. Sang Bunda lalu memeluk kedua anaknya dengan sayang. Saat itu Ava bersumpah, dia takkan pernah lagi membiarkan ibu dan adiknya menangis. Dia akan membahagiakan mereka, apapun yang terjadi. Tak ada yang dapat menghentikannya. Tak ada!

Oleh : Alief Murobby
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

Senin, 29 Juni 2015

Cerpen Kasih Sayang : ANTARA PERSAHABATAN & CINTA

Senin, 29 Juni 2015





Cerpen Kasih Sayang : 
ANTARA PERSAHABATAN & CINTA



SMP Nusa Bangsa yang semula terkesan damai dan syahdu, tiba-tiba pecah oleh hiruk pikuk para siswa. Semua pintu kelas telah terbuka lebar untuk siswa-siswi yang akan kembali ke rumah. Mereka tampak saling berebutan menuju halaman sekolah. 

ANTARA PERSAHABATAN DAN CINTA
Di halaman sekolah, Livia, Zizy, A’yun, dan Qory sedang menunggu sahabat2 mereka yang lain, yaitu Arsya, Fian, Romi, Marvel, dan Nuri. Setelah kelima cowok itu datang, mereka segera pulang ke rumah bersama-sama. Itulah yang mereka lakukan setiap hari, berangkat sekolah, istirahat di kantin, bahkan pulang sekolah pun mereka bersama-sama, karena mereka semua bersahabat sejak kecil. Tapi lain bagi Arsya dan Marvel, karena Arsya adalah murid pindahan dari Indramayu, Jawa Barat. Sedangkan Marvel adalah mantan pacar Livia. Meski begitu, mereka tetap menjalin persahabatan dengan keduanya. Yah,, persahabatan sejak kecil, sekarang dan mungkin untuk selamanya.

Suatu hari di bulan April 2010, Livia mendapat masalah dengan pacarnya yaitu Arinal. Karena Arinal sudah tidak pernah menghubungi Livia lagi, dan itu yang membuat Livia menjadi sedih, Livia berpikir bahwa Arinal sudah tidak mencintai dia lagi, sudah berkali-kali Livia meminta pendapat pada ketiga sahabatnya, yaitu Zizy, A’yun, dan Qory, tapi mereka selalu meminta Livia untuk memutuskan hubungan dengannya dan mencari cowok yang lebih baik lagi, karena memang sudah sejak awal mereka tidak pernah menyetujui hubungan Livia dengan Arinal. Hingga Livia meminta pendapat pada sahabatnya yang lain, yaitu Arsya, Fian, dan Romi, tetapi jawaban mereka sama saja, Livia bingung dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Tetapi Arsya selalu menghiburnya, dia selalu memberikan motivasi kepada Livia, hingga sedikit demi sedikit hubungan mereka semakin dekat dan semakin akrab, dan kini Arsya lah yang menggantikan Arinal dalam inbox sms di hp-nya Livia. Dan lambat laun pula, timbul chemistry dalam hati mereka berdua.

Pada suatu hari, terjadilah pertengkaran antara Livia dengan Arsya, awalnya Arsya marah kepada Livia karena suatu hal, dan Livia sudah meminta maaf, tetapi Arsya berat untuk memaafkannya, hingga Livia nekat membohongi Arsya dengan cara menyamar menjadi seseorang yang bernama Vina agar dia bersedia memaafkan Livia. Awalnya Arsya percaya, dan pada suatu sore setelah pulang sekolah, hari itu hujan deras, Arsya meminta pada Livia untuk menemuinya di kebun belakang rumah, walau saat itu hujan deras, tapi Livia tetap datang dan dengan tubuh basah kuyup, disitulah Arsya memaafkan Livia. Setelah kejadian itu, hubungan mereka berdua kembali membaik seperti semula, hingga pada suatu hari, kebohongan Livia terbongkar, Arsya tahu bahwa selama ini Vina itu adalah Livia sendiri, dan Arsya berpikir bahwa Livia membohongi dirinya agar bisa memanfaatkannya untuk bisa memaafkan Livia, akhirnya terjadilah pertengkaran besar antara Arsya dan Livia, berkali-kali Livia meminta maaf pada Arsya tetapi Arsya menolak, hingga Livia pun menyerah dan dia membiarkan Arsya melampiaskan kekesalannya dengan cara menjauhi Livia dan berhenti menghubungi Livia. Sudah 1 minggu berlalu, Arsya masih tetap belum memaafkan Livia, dan pada suatu malam, Livia merenung sendiri di luar rumah, dia sedih karena sampai saat itu Arsya belum juga memaafkannya, dia juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menunggu keputusan Arsya untuk mau memaafkannya, tanpa tersadar dia menangis, sambil menatap bintang2 di langit malam, dia berdo’a kepada tuhan agar Arsya mau memaafkannya, tiba-tiba Livia mendapat sms dari Fitri, temannya yang 1 rumah dengannya, Romi, dan juga Arsya. Dalam sms itu, Fitri bertanya2 tentang Arsya, setelah mengetahui kejadian yang di alami oleh Livia dan Arsya, Fitri menyuruhnya untuk menghubungi Arsya lewat sms, tetapi Livia menolak karena dia tahu bahwa Arsya tidak akan membalasnya, dan dia takut Arsya akan marah padanya. Tapi Fitri terus mendesaknya. Akhirnya Livia memberanikan diri untuk menghubungi Arsya kembali, dan tidak disangka, Arsya membalas sms Livia, dan pada malam itulah Arsya kembali memaafkan Livia, dan pada saat itulah Livia tahu bahwa Arsya lah yang mendesaknya untuk menghubunginya dengan berpura2 menjadi Fitri. Sejak kejadian itu, Arsya semakin tahu dan mengenal siapa Livia sebenarnya, Arsya mengetahui semua sifat luar dan sifat dalam Livia. Dan sejak kejadian itu pula, Livia semakin merasa bahwa dia punya perasaan dengan sahabatnya, Arsya.

Di bulan Juni 2010, saat liburan akhir semester, Arsya pulang ke kota asalnya, yaitu Indramayu, walaupun Arsya dan Livia berjauhan, tetapi mereka tetap berhubungan lewat sms, dan pada suatu hari Livia menyatakan perasaannya kepada Arsya, Dia berterus terang bahwa dia mulai jatuh cinta padanya sejak kejadian pertengkaran itu, Livia berkata bahwa dia tidak bisa menahan lagi perasaannya, dia pikir perasaannya pada Arsya begitu kuat, dan ternyata Arsya membalas pernyataan cinta Livia, tak disangka bahwa Arsya pun mencintai Livia, tetapi sayangnya, cinta mereka tidak bisa bersatu, karena mereka berdua sama2 sudah ada yang punya, mereka berdua sama2 sudah mempunyai kekasih, dan mereka berdua juga tahu akan hal itu, akhirnya Arsya terpaksa memutuskan untuk tetap menjalin cinta dengan Livia tanpa status, dan tetap menjalani hubungan dengan kekasih masing2, dan Livia pun menyetujuinya karena sudah tidak ada cara lagi untuk mereka berdua, sedangkan mereka berdua sendiri tidak bisa mengakhiri cinta mereka begitu saja. Hal yang lain terjadi pada A’yun dan Fian, pada saat yang sama, Fian menyatakan cintanya kepada A’yun, tak disangka bahwa Fian sudah lama menyimpan perasaan cintanya itu selama 5 tahun, dan akhirnya A’yun pun menerimanya dan mereka resmi menjalin hubungan.

Yah, cinta yang berawal dari sebuah persahabatan. Dan hari-hari baru pun mulai mereka jalani bersama2. Sahabat2 mereka pun sudah mengetahui semua yang terjadi antara Livia dan Arsya dan mereka mendukungnya.

Seiring dengan berjalannya hubungan Livia dg Arsya, hubungan Livia dan Arinal tidak pula membaik, hubungan mereka semakin renggang, dan Livia pun semakin yakin bahwa yang dulu pernah dikatakan oleh ketiga sahabatnya itu adalah benar. Livia juga semakin yakin untuk memutuskan hubungannya dengan Arinal, tetapi Arsya selalu mencegahnya. Arsya tidak ingin Livia putus dengan Arinal yang disebabkan oleh kehadiran dirinya di tengah-tengah hubungan mereka berdua. Tetapi Livia tetap pada keputusannya. Awalnya Arsya mencegahnya, tetapi Livia meyakinkan Arsya bahwa keputusannya itu bukan semata-mata disebabkan oleh kehadiran Arsya dalam hidupnya, melainkan karena Livia memang sudah tidak lagi mencintai Arinal lagi, dan dia sudah terlanjur sakit hati karenanya. Akhirnya Arsya pun percaya dan mau menerima keputusan Livia dan sejak itu, status Livia menjadi single kembali.

Pada bulan Agustus 2010, Arsya pun mendapat masalah yang sama dengan kekasihnya Sella, hubungan mereka pun putus di tengah jalan, dikarenakan Sella terpaut hati dengan yang lain. Arsya sangat terpukul, dia sangat sedih dan kecewa dengan keputusan Sella, Arsya bingung harus bagaimana, dia pun menghubungi Livia dan menceritakan semua yang terjadi padanya, dalam hati Livia senang juga sedih, dia senang karena sudah tidak ada lagi yang memiliki Arsya dan itu memudahkannya untuk mendapatkan Arsya, tapi di lain hati dia juga sedih melihat Arsya yang sedih dan terpukul karenanya, Livia tak sampai hati melihat Arsya terpuruk dalam kesedihan seperti itu, Livia pun bingung harus berbuat apa, dia hanya bisa menghibur Arsya lewat sms, karena saat itu Arsya tak lagi bersamanya, Arsya kembali ke Indramayu, berkali-kali dan berhari-hari Livia terus menghibur Arsya, hingga Livia pikir Arsya mampu melupakan Sella begitu juga dengan kenang2annya. Tapi ternyata, tak semudah itu bagi Arsya untuk menjauhi Sella, bahkan melupakannya. Sudah 4 bulan berlalu sejak tragedi cinta Arsya di bulan ramadhan, hubungan Livia dengan Arsya pun semakin dekat, semakin membaik, dan semakin serius, tetapi Arsya masih belum bisa untuk menjadi milik Livia sepenuhnya, Livia pun hanya bisa pasrah menerima keadaan cintanya saat ini, karena dia tak mau terlalu memaksa Arsya untuk menjadi milik dia sepenuhnya. Pada bulan November 2010, Livia, Arsya, Fian dan semua sahabatnya merayakan hari ultah A’yun di rumahnya. 2 hari sebelum hari H, Livia dan sahabatnya yang lain merencanakan sesuatu untuk memberikan kejutan pada A’yun, dan ternyata kejutan itu pun sukses besar, hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan untuk A’yun dan Fian, Livia dan Arsya, dan juga sahabat2nya yang lain. Dan pada bulan ini juga, menjadi bulan yang sangat membahagiakan bagi Livia dan Arsya, karena di bulan ini, hubungan mereka semakin tumbuh harum mewangi, Arsya semakin menyayangi Livia, dari hari ke hari, sikap Arsya pada Livia pun semakin mesra dan romantic, begitu juga dengan Livia. 

Tetapi sayangnya, keadaan itu tidak bertahan lama, mulai memasuki bulan Januari 2011, hubungan mereka pun renggang dikarenakan Livia mendengar kabar bahwa Arsya kembali dekat dengan mantan pacarnya, yaitu Sella. Kabar tersebut membuat Livia sangat kesal, bahkan Arsya pernah berduaan dengan Sella di depan kelas Livia, dan Livia melihatnya ketika kelas bubar, hingga Livia tidak mau keluar dan itu membuat teman-temannya keheranan.


“Kenapa kamu Liv..? koq nggak jadi keluar.. padahal kan kamu tadi bersemangat banget pengen pulang..” Kata Bella. “Tuh, liat aja sendiri, ada pemandangan yang bikin sakit hati.!!” Kata Livia kesal. Lalu Bella pun keluar dan melihat Arsya berduaan dengan Sella, dan menyindir mereka, “Ehm2, pacaran koq di sekolahan sich.. Inget2, ini sekolah, bukan tempat pacaran..!!” Sindir Bella. Dan mereka berdua pun pergi. Saat sampai di rumah, Arsya mendekati dan menggoda Livia, tetapi Livia malah menampakkan wajah kesalnya, hingga membuat Arsya terheran-heran dan bertanya pada Livia.

“Dek, kenapa sich..?? koq cuek gitu,,,” Tanya Arsya.

“Tau dech, pikir aja sendiri,,!!” Kata Livia kesal.

“Iiicch, marah ya.. Ada apa sich emangnya..??” Tanya Arsya bingung.

“Huh, udah puas ya tadi berduaan di depan kelas..!! Nggak tau malu banget sich..!! Bikin sakit hati aja..!!” Kata Livia marah.

“Berduaan..?? Ya ampun.. Jadi gara2 itu.. Gitu aja koq marah sich..” Kata Arsya.
  
“Kamu ini gimana sich, gimana nggak marah coba,! Aku pikir kamu udah bisa lupain si Sella, tapi ternyata ini malah berduaan, di depan kelas aku lagi,,!! Gila kamu ya..!!” Kata Livia yang semakin marah.

“Ya udah, aku minta maaf dech,, nggak akan ngulangin yang kayak gitu lagi,, maafin aku ya dek..” Kata Arsya meminta maaf.
  
“Tau ah..!! Udahlah, males aku ngomong sama kamu..!!” Kata Livia berlalu.

”Tunggu2.. Jangan gitu donk,, aku kan udah minta maaf, iya2 aku janji, maaafin aku ya My Princess..” Bujuk Arsya.

“Ya udah iya, aku maafin, tapi bener ya jangan di ulangin lagi, janji..!!” Kata Livia sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

“Iya, aku janji adekku tersayang..” Kata Arsya membalas. “Nah, sekarang senyum donk.. jangan cemberut gitu, jelek tau..” Kata Arsya lagi sambil mencubit pipi Livia.

“Hufft, iya sayang…” Kata Livia tersenyum senang.

Setelah kejadian itu, hubungan mereka pun kembali normal. Dan dari kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa mereka berdua saling menyayangi, dan cinta mereka berdua begitu kuat, dan tak bisa terpisahkan. Dan mereka pun menjalani hari-hari indah seperti biasanya. 

Pada bulan Februari 2011, terjadi pertengkaran kembali antara Livia dan Arsya, karena Arsya melihat dan mengetahui bahwa Livia kembali berkomunikasi dengan mantan pacarnya yaitu Marvel, Arsya cemburu begitu melihat Livia SMS_an dengan Marvel, Livia yang mengetahuinya segera meminta maaf pada Arsya, tetapi Arsya diam saja, seakan-akan dia tak mau memaafkan Livia, 5 hari Livia menjalani hari tanpa Arsya di sampingnya, Livia sedih dan meminta maaf kembali pada Arsya, bahkan Livia berkata bahwa dia tidak akan berhubungan lagi dengan Marvel, tak akan membalas sms Marvel lagi, dan bahkan akan menghapus nomer Marvel dari kontak HPnya, setelah mendengar pernyataan Livia itu, Arsya pun akhirnya mau memaafkan Livia. Dan pada bulan ini, LPP (Language Progress Program) di sekolah mereka mengadakan tour di Jogjakarta untuk menyelesaikan tugas terakhir mereka yaitu conversation dengan turis2 yang ada disana. Tetapi kini, hanya Livia dan Qory yang ikut, karena A’yun dan Zizy sudah sejak awal tidak mengikuti LPP. Saat berada dalam bis, Livia menghubungi Arsya, dia meminta maaf karena tidak sempat berpamitan dengan Arsya tadi saat di rumah, dan disitulah Livia berpamitan dengan Arsya, sekaligus meminta do’a agar selamat sampai tujuan juga selamat sampai di rumah dan agar lancar dalam menjalankan tugasnya saat disana. Setelah itu mereka melanjutkan SMS_annya, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa dalam bis itu dia sangat kedinginan, sedangkan sweaternya ada di dalam tas dan Livia tak bisa mengambilnya karena sweater itu ada di dasar tas, Arsya pun memberikan perhatiannya pada Livia dengan menyuruhnya untuk mengambil sweater itu meskipun ada di dasar tas, demi Livia agar tidak kedinginan lagi, dan selama dalam perjalanan tour itu Arsya selalu memberikan perhatian pada Livia hingga Livia kembali. Livia juga tidak lupa untuk memberi Arsya dan sahabat2nya oleh-oleh dari Jogja. Saat di Malioboro, Livia membelikan kaos hitam Jack Daniel dan souvenir berupa gantungan segitiga yang di dalamnya terdapat miniatur candi borobudur untuk Arsya. Begitu juga dengan sahabat2nya. Livia juga membelikan oleh-oleh berupa bakpia untuk sahabatnya juga untuk keluarganya, Livia pun sampai di rumah kembali pada pagi harinya.

Dan pada bulan Maret 2011, tepatnya pada tanggal 4 dan 5, Livia, Zizy dan A’yun pergi ke Malang untuk mengikuti Tes Penerimaan Siswa Unggulan Baru di MAN 3 MALANG, sebelum pergi, Livia menyempatkan untuk berpamitan dengan Arsya dan meminta dukungannya sekaligus do’a untuknya, begitu juga dengan A’yun dengan Fian, mereka juga meminta dukungan dan do’a kepada semua teman dan sahabatnya. Dan pada tanggal 10, Livia melihat pengumuman kelulusan tes tersebut, tapi ternyata, Livia, Zizy dan A’yun tidak lulus, Livia pun membicarakan hal itu dengan Arsya lewat sms, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa mereka bertiga tidak lulus dan Livia sangat sedih, lalu Arsya pun menghiburnya dengan berkata bahwa tidak semuanya yang kita inginkan bisa tercapai, dan itu semua membutuhkan proses, Arsya mengakui bahwa Livia adalah cewek yang pintar dan cerdas, dan Arsya yakin bahwa Livia dan yang lainnya pasti bisa diterima pada tes regulernya, Arsya berkata bahwa dia bangga bisa mempunyai cewek seperti Livia yang pintar, karena dia tahu kalau Malang itu adalah tempat sekolahnya anak-anak yang pintar,, mendengar hal itu, Livia menjadi semangat dan tidak bersedih lagi, Livia pun berterima kasih pada Arsya karena sudah memberinya dukungan dan semangat.

Pada tanggal 23 Maret, Livia merayakan ultahnya bersama dengan Arsya, A’yun, Fian, Romi, Bella, dan Ana. Dua hari sebelumnya tepatnya tanggal 21 Maret, A’yun mempunyai rencana untuk ngerjain Livia habis2an, saat malamnya, Livia mengirim SMS pada Arsya, tetapi Arsya tidak membalasnya, setelah agak lama, Arsya membalas dan meminta maaf karena dia telat, Arsya berkata bahwa dia keasyikan SMSan dengan Lia, cewek Indramayu tetangganya, Livia pun kesal dan marah pada Arsya, dan saat itu juga, A’yun sms Livia, dia berkata bahwa dia sangat marah sekali dengan Arsya karena siang tadi Arsya mencubit pipinya di depan Fian, dan sekarang A’yun bertengkar dengan Fian, A’yun pun meminta tolong pada Livia agar Livia mau membantunya membicarakan masalah ini dengan Arsya, Livia pun bingung harus bagaimana, karena saat itu Livia juga sedang bermasalah dengan Arsya. Keesokan paginya, Livia bertemu dengan A’yun di sekolah, A’yun marah2 pada Livia karena perbuatan Arsya kemarin, Akhirnya Livia berjanji untuk membantunya, saat itu juga, Arsya ngerjain Livia lagi, sehingga membuat Livia makin sedih, dan malam harinya, Livia berkata pada Arsya lewat SMS tentang masalah A’yun itu, lalu Arsya meminta nomer A’yun untuk meminta maaf, setelah agak lama, Livia merasa sudah mengantuk dan dia ketiduran, tapi Arsya membangunkan Livia, Arsya melarang Livia tidur karena Arsya kesepian dan tak bisa tidur, Arsya meminta Livia untuk tetap menemaninya malam itu, Livia pun terpaksa menyetujuinya. Pada pukul 12.00 malam tepat, Hp Livia berdering, seseorang menelponnya, dia memakai privat number, Livia pun mengangkatnya, “Surprise..!!!” Ternyata itu adalah Arsya, Arsya mengucapkan met ultah pada Livia, Livia sangat bahagia sekali, Arsya bercerita bahwa Lia, dan masalah A’yun dan Fian itu adalah bagian dari sandiwara mereka untuk memberikan surprise ini padanya, Arsya juga berkata bahwa dia menelponnya karena dia ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan met ultah ke Livia. Pada keesokan harinya tepatnya tanggal 23 Maret, setelah pulang sekolah, Livia, Ana, Bella, dan teman2 lainnya yang tergabung dalam kelompok dance Livia mengadakan latihan di rumahnya, saat perjalanan menuju rumah Livia, Ana menyiram Livia dengan air yang dibawa oleh Ana dari rumah, Livia sangat terkejut, tapi Livia tak bisa lari, setelah sampai di rumah, Ana menariknya sampai di kamar mandi dan menyiram Livia kembali, Livia sangat malu, karena disitu ada Arsya dan Fian. Setelah itu Livia mengganti bajunya dan mulai latihan kembali. Tiba2 A’yun datang, dan langsung menuju ke atas menemui Fian pacarnya, Arsya dan Romi, setelah itu dia turun lagi menemui Ana dan meminta Ana untuk menemaninya ke atas. Setelah agak lama, Ana kembali turun memanggil Livia dan mengajaknya ke atas juga, saat di atas, Ana mengajak Livia untuk membicarakan sesuatu tentang kelompok dancenya di luar, tiba2 dari belakang Arsya menyiramnya, disusul dengan siraman dari A’yun, Fian, Romi, Ana dan Bella, Livia sangat terkejut juga bahagia, setelah penyiraman selesai, tiba2 Arsya datang di hadapan Livia dengan membawa sebuah kado di tangannya. Arsya mengucapkan met ultah sekali lagi pada Livia, dan memberikan kado tersebut padanya, dan Arsya menyuruh Livia untuk membukanya. Dan ternyata isinya adalah sebuah jam tangan dan di dalamnya terdapat surat, Livia pun membacanya, dan Arsya meminta Livia untuk segera memakai jam tangan itu, tetapi Livia menolaknya karena jam tangan itu terlalu besar untuk ukuran tangan Livia, tetapi Livia berjanji akan segera memakainya, setelah itu A’yun dan Fian yang memberinya kado, isinya adalah 1 boneka semut besar, 1 boneka teddy kecil dan gantungan. Setelah semua teman2 Livia sudah pulang, Marvel , mantan pacar Livia datang untuk mengucapkan met ultah pada Livia. Setelah agak lama mengobrol, akhirnya Marvel pun pulang. Malam harinya saat SMSan, Arsya berkata bahwa dia sangat bahagia karena bisa merayakan hari ultah Livia, dia berkata bahwa dia sangat bahagia ketika melihat Livia tersenyum dan tertawa bahagia seperti tadi dan berharap bahwa hari bahagia itu akan selalu terjadi, sehingga Arsya selalu bisa melihat Livia tersenyum selalu. Hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan buat Livia, Arsya, dan sahabat2nya.

Pada akhir bulan Maret 2011 itu, Livia dan Arsya juga semua sahabat2nya mengikuti ujian Try out UN. Dan pada tanggal 9 April, Livia mengajak Fian untuk ikut memberikan surprise di hari ultah Arsya, pada pukul 10.00, Livia naik keatas untuk menemui dan memberikan kejutan itu untuk Arsya, dengan membawa kue ultah buatannya sendiri, disertai dengan nyanyian ultah ala Livia, membuat Arsya terkejut dan tersentuh hatinya, setelah itu Livia menyuruh Arsya untuk meniup lilinnya dan memakan kuenya, tetapi Arsya malah memberikan potongan kue pertamanya tersebut pada Livia dan menyuapinya, setelah itu baru Arsya meminta Livia untuk balik menyuapinya, Livia sangat bahagia, begitu juga Arsya yang merasa bahagia dengan adanya surprise dari Livia. Setelah agak lama, tiba2 Fian datang dan langsung melempar tepung yang ada di genggamannya pada Arsya, belum puas dengan lemparan tepung itu, Fian pun melemparkan tepung itu juga pada Livia, hingga mereka berdua sama-sama belepotan karena lemparan tepung itu, saat melihat Livia yang wajahnya penuh dengan tepung, Arsya pun tertawa dan mengusap wajah Livia dengan tangannya, membersihkan tepung itu dari wajahnya, begitu juga Livia, dia pun mengusapkan tangannya pada wajah Arsya yang penuh dengan tepung. Setelah selesai membersihkan wajah masing-masing, Arsya menggenggam tangan Livia dan berterima kasih pada Livia karena telah memberikan surprise itu padanya, dia berkata bahwa dia sangat bahagia sekali hari itu, lalu Arsya mencium kedua tangan Livia hingga membuat Livia tersipu malu. Dan pada awal bulan Mei, Arsya meminta izin pada Livia untuk pergi, pulang ke rumah asalnya di Indramayu. Awalnya Livia berpikir untuk tidak mengizinkan Arsya pergi, tetapi Livia memikirkan kebahagiaan Arsya juga, Livia berpikir bahwa Arsya butuh istirahat di rumah asalnya, dan akhirnya Livia pun mengizinkannya. Dan Arsya pun berterima kasih pada Livia dan mencium pipi Livia. Livia tersipu malu dan merasa bahagia. Tepat di hari perginya Arsya, Livia diminta oleh sahabatnya Fian untuk menemani dia mengantar kepergian Arsya ke stasiun. Awalnya Livia ragu2 karena pada saat itu adik Livia sakit keras dan Livia diminta untuk menjaga adiknya itu di rumah sakit. Karena Livia tidak ingin melewatkan kesempatan indah itu, akhirnya Livia meminta izin pada kedua orang tuanya dengan alasan reuni alumni, dan Livia pun ikut mengantar kepergian Arsya ke stasiun bersama dengan Fian. Sebenarnya Arsya tidak mengizinkan Fian untuk mengajak Livia ikut serta mengantarnya karena dia takut akan terjadi sesuatu yang buruk padanya saat di jalan nanti, tetapi Fian tetap bersikeras untuk mengajak Livia dan dia berkata bahwa tidak akan terjadi apapun pada Livia dan dia juga berjanji untuk menjaga Livia saat di jalan nanti, dan akhirnya Arsya pun menyetujuinya dengan terpaksa. Saat tiba di stasiun, Arsya pun mengucapkan kata terakhirnya sebelum meninggalkan Livia pergi. Dia berpesan pada Livia untuk selalu menjaga kesehatannya selama tak ada Arsya disampingnya, dan selalu mengingat Arsya dimanapun dan kapanpun, dan akan selalu menjaga hati dan cintanya hanya untuk Arsya sampai saatnya Arsya kembali. Livia pun menyetujuinya dan berjanji akan melakukan semua yang diminta oleh Arsya. Begitupun sebaliknya dengan Arsya. Kemudian Arsya pun mencium pipi dan kening Livia dan mengucapkan salam perpisahan padanya. Dan setelah itu Arsya pergi meninggalkan Livia dan Fian menuju kedalam peron. Setelah Arsya masuk, Livia dan Fian pun pulang.

Satu minggu berlalu Livia jalani hari-harinya tanpa Arsya, tapi walaupun mereka berjauhan, mereka tetap saling memberi kabar, saling sms_an, saling merindu, dan masih tetap saling menjaga perasaan masing-masing. Tetapi, kebahagiaan yang Livia rasakan tidak bertahan lama, sampai suatu hari ada sebuah kejadian yang membuat hubungan mereka hancur berkeping-keping.

Satu minggu sudah Livia menanti kabar dari Arsya yang tak kunjung membalas satupun sms dari Livia. Livia sangat sedih dan tak hentinya memikirkan Arsya. Sampai suatu hari, Livia mengirim sms pada Arsya yang berisi bahwa Livia sudah tidak kuat lagi menahan semua penderitaan yang sudah dia alami, Dia berkata bahwa lebih baik Livia pergi dari hidup ini dan tak kembali untuk selama-lamanya, dan Livia pikir Arsya akan tetap bahagia dan mungkin akan lebih bahagia jika melihat dan mendengar bahwa dirinya sudah tiada, dan tidak akan ada lagi yang mengganggu kehidupannya, dan terakhir Livia mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya pada Arsya. Disertai dengan tangisan dan keputus-asaan, Livia mengirimkan sms itu pada Arsya dan mulai mengambil sebuah cutter yang digunakan untuk melukai lengannya sendiri. Tapi sayangnya, Arsya tidak menggubris sms Livia, Livia semakin sedih dan semakin menggores lengannya. Sahabatnya, A’yun dan Fian yang mengetahui hal itu langsung mengirim sms pada Livia dan bertanya apa yang terjadi padanya. Tapi Livia tidak menjawabnya, A’yun dan Fian semakin takut jika terjadi hal yang buruk yang menimpa Livia. Esok paginya, A’yun dan Fian datang ke rumah Livia untuk memastikan keadaan Livia, saat A’yun masuk ke kamar Livia, A’yun menemukan Livia tergeletak dengan lengan penuh darah, A’yun terkejut dan menjerit hingga Fian datang menyusul ke kamar, begitupun dengan Fian, dia sangat terkejut melihat Livia tergeletak lemas disana. Lalu tanpa pikir panjang, A’yun segera menyuruh Fian untuk mengangkatnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Livia pun dirawat dan dokter berkata bahwa Livia kehilangan banyak darah, hingga dia harus melakukan transfusi darah dan sayangnya, persediaan darah di rumah sakit sedang kosong. A’yun dan Fian terkejut, mereka sangat sedih dengan apa yang menimpa sahabatnya, Livia. Mereka semakin sedih saat tahu bahwa darah mereka tidak ada yang cocok untuk di donorkan pada Livia dan satu-satunya orang yang darahnya cocok untuk di donorkan darahnya hanyalah Arsya. Fian pun bertanya pada dokter sampai kapan Livia bisa bertahan menunggu adanya donor darah tersebut, dan dokter pun menjawab bahwa Livia masih bisa bertahan selama 3 jam. Mendengar pernyataan dari dokter, Fian segera menelpon Arsya dan memberi kabar padanya tentang keadaan Livia yang kritis saat ini. Setelah berbicara panjang lebar, Fian kembali dengan tangan kosong, tanpa hasil, Arsya tidak bisa datang saat itu juga karena sibuk, dan meminta maaf pada mereka karena tidak bisa menolong Livia. Fian sangat kecewa dan sangat marah pada Arsya, tetapi A’yun menenangkannya dan mengajak Fian untuk tetap mencari donor darah untuk Livia. Saat A’yun dan Fian sudah hampir menyerah dan waktu sudah hampir habis, tiba2 Marvel datang dan berkata bahwa darahnya cocok dengan Livia dan dia bersedia untuk mendonorkan darahnya pada Livia. A’yun dan Fian sangat senang dan meminta Marvel untuk menemui dokter. Setelah tranfusi darah selesai dilakukan, dokter berkata bahwa keadaan Livia berangsung-angsur membaik. Mereka bertiga pun senang dan bersyukur bahwa sahabatnya akan sembuh, A’yun dan Fian juga berterima kasih pada Marvel telah membantu mereka juga Livia. Dan mereka pun bergantian menjaga Livia di rumah sakit. 3 hari sudah Livia jalani hari-hari buruknya di rumah sakit dan kini dia sudah kembali ke rumah. A’yun pun bertanya pada Livia apa yang terjadi padanya, dan mengapa Livia menggoreskan cutter tajam ke lengannya sendiri. Livia pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan Arsya. Mendengar cerita Livia, Fian jadi semakin marah pada Arsya, tiba2 Livia menerima sms dari Arsya, dalam sms itu, Arsya marah2 pada Livia karena sms Livia dulu, dia berkata bahwa saat itu Arsya pergi jalan2 dengan teman2nya disana dan dia tidak membawa hp, hp nya dia tinggalkan di rumah dan sms Livia saat itu di buka dan dibaca oleh orang tua Arsya, hingga saat Arsya pulang, orang tuanya memarahi Arsya. Livia sangat sedih dengan sms Arsya, dia sedih kenapa Arsya tidak bisa memahami keadaan Livia dan malah memarahinya saat dia baru saja melewati masa-masa buruknya. Setelah perdebatan yang panjang dengan Livia, akhirnya Arsya berkata pada Livia bahwa lebih baik hubungan mereka hanya sebatas teman biasa saja, tidak lebih karena Arsya menyadari bahwa dirinya tidak bisa membahagiakan Livia dan malah membuatnya terluka, Livia pun tidak setuju dengan pernyataan Arsya dan berkata bahwa selama ini Livia tidak pernah merasa dilukai oleh Arsya dan semua yang terjadi padanya itu bukan semata-mata karena Arsya, tetapi karena kesalahan dirinya sendiri. Livia juga meminta maaf pada Arsya karena telah membuat dia dimarahi oleh orang tuanya dan meminta Arsya untuk menarik kata-katanya tadi. Livia juga menjelaskan bahwa jika Arsya merubah hubungan mereka menjadi sebatas teman biasa saja, Livia akan semakin sedih dan terluka, Livia akan lebih bahagia jika masih tetap bisa bersama dengan Arsya hingga sampai tiba saatnya nanti mereka harus berpisah. Arsya bingung dan tak bisa memutuskan hari itu juga, dan Arsya pun mohon diri pada Livia untuk mengakhiri sms tersebut. Dan diakhir sms, Arsya masih memberikan kiss bye nya untuk Livia. 1 hari setelah kejadian itu, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan Livia sangat bersyukur karena Arsya masih mau membalas sms nya, dan Arsya masih mau memaafkan Livia dan tetap mengizinkan Livia untuk memanggilnya dengan sebutan “Maz”. Dan 2 hari setelah itu, Livia dan Fian mengikuti rekreasi ArSemA(Arek Sembilan A) ke Malang dengan tujuan ke beberapa tempat, yaitu Masjid Turen, Wendit, Pasar Lawang dan terakhir adalah Wisata makam Sunan Ampel di Surabaya. Awalnya Livia pergi dengan perasaan bahagia, karena dia bisa pergi bersenang-senang dengan teman2 dan sahabat2nya. Saat perjalanan pulang, dia mencoba untuk menghubungi Arsya karena saat itu dia sangat merindukan Arsya. Tetapi ternyata Arsya menjawab sms itu dengan jawaban yang tidak pernah diharapkan oleh Livia, di sms itu dia malah memarahi Livia karena dia masih memanggil namanya dengan sebutan “Maz”, dan Arsya meminta pada Livia untuk tidak memanggilnya dengan sebutan itu lagi, Livia sangat sedih dan meminta maaf pada Arsya dan mencoba untuk menjelaskannya tetapi Arsya tidak peduli dan malah mengakhiri sms itu. Livia benar2 sedih dan menceritakan kejadian itu pada sahabatnya, Fian. Fian terkejut dan mencoba untuk membantu Livia karena dia merasa kasihan dengannya, Fian mencoba untuk menghubungi Arsya tetapi semuanya sia-sia, karena Arsya sama sekali tidak menggubris mereka. Livia semakin sedih, melihat hal itu, Fian segera menghubungi A’yun untuk datang menghibur Livia, tetapi semua itu juga sia-sia. Berkali-kali Livia mencoba menghubungi Arsya, tetapi Arsya benar-benar tidak memperhatikannya, bahkan Livia sempat berpikir bahwa Arsya sudah tidak mencintainya lagi, dia berpikir bahwa Arsya sudah memiliki kekasih hati yang baru, yang membuat Livia semakin sedih, hancur dan terluka. Pada malam harinya, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan akhirnya Arsya mau mengangkatnya, dan disitu Livia meminta maaf pada Arsya atas semua kesalahan yang telah dia perbuat selama ini, dan menanyakan sebab Arsya tidak mengizinkannya lagi memanggil dengan sebutan “Maz”. Tetapi Livia malah mendapatkan jawaban yang tidak pernah diinginkan olehnya. Arsya memaafkan tetapi dia tidak mau memberikan alasan kenapa dia tidak lagi mengizinkan Livia memanggilnya dengan sebutan “Maz” lagi, Arsya hanya berkata bahwa lebih baik hubungan mereka berdua hanya sebatas teman biasa saja, dan tak bisa melanjutkannya lagi, dan mengenai alasan, Arsya tidak mau menjawabnya, dia hanya diam saja. Livia sangat sedih dan mencoba membujuk Arsya, Livia berusaha untuk membuat Arsya merubah keputusannya, tetapi Arsya tidak peduli dan tetap pada keputusannya. Hal itu membuat Livia meneteskan airmatanya, dan menangis memohon2 pada Arsya, tetapi sayangnya Arsya tidak bisa merubah keputusannya itu, dan Arsya pun mengakhiri pembicaraan itu. Sepeninggal Arsya, Livia terus meneteskan airmatanya hingga membuat matanya bengkak. Livia sangat sedih dan terpukul saat mendengar langsung keputusan Arsya untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah terlanjur mereka jalani dengan hati yang tulus dan suci.

Esok paginya, Livia menceritakan semua kejadian yang telah dia alami pada sahabat2nya, mereka semua sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang Livia ceritakan. Fian, Marvel, A’yun dan Qory geram pada Arsya atas apa yang sudah dia lakukan pada Livia. Dulu, mereka sangat mempercayai Arsya untuk menjadi pengganti Arinal, untuk menjadi kekasih hati Livia, mereka sangat mendukung Arsya, tetapi sekarang, mereka benar2 geram pada Arsya dan merasa menyesal telah mempercayakan semua itu pada Arsya. Fian dan Marvel adalah orang yang pertama kali merasa kecewa dan marah pada Arsya, karena Fian mewakili ke-4 sahabat Livia pernah memberikan kepercayaan seutuhnya pada Arsya untuk selalu menjaga Livia, menjaga hati juga cintanya, tetapi semua itu malah di salah gunakan oleh Arsya dan mengkhianati Livia. Sedangkan Marvel, sebagai cinta pertama Livia dan orang yang pernah mengisi relung hati Livia yang juga telah memberikan kepercayaan pada Arsya untuk selalu menjaga dan mencintai Livia sepenuh hatinya, dan memberikan janji untuk tidak menyakiti hati Livia dan mengkhianatinya. Kemudian, mereka mencoba untuk menghibur Livia dan berkata untuk tidak terlalu terpuruk dalam kesedihannya, karena mereka yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Arsya itu demi kebahagiaan Livia juga. Akhirnya Livia pun mendengarkan nasihat sahabat2nya dan mencoba untuk menerima semua takdir yang telah diberikan untuknya dan Livia juga akan selalu menanti kedatangan Arsya kembali.

2 Minggu kemudian, terdengar kabar bahwa Arsya telah kembali dan hal itu membuat Livia senang, tetapi Livia kembali teringat dengan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua, hingga membuat Livia kembali bersedih dan mencoba untuk menjaga jarak dengan Arsya. Saat itu, adalah hari2 terakhir Livia bisa berkumpul dan bertemu dengan teman2nya, yaitu Romi dan terutama dengan Arsya, karena 3 hari setelah itu, akan diadakan acara wisuda tahun 2010/2011 di sekolah Livia. Sebenarnya Livia ingin menciptakan lebih banyak kenangan manis lagi dengan sahabat2nya, begitu pula dengan Arsya, tetapi hal itu sangat tidak mungkin, mengingat hal yang sudah terjadi antara Livia dan Arsya, hingga Livia pun menyerah dan tak mau memaksakan kehendak Arsya, walaupun begitu dia juga harus tetap bersyukur karena pernah diberikan kesempatan yang sangat tak ternilai harganya dan tak terhitung banyaknya untuk bisa menciptakan kenangan manis itu berdua dengan Arsya.

Tibalah saatnya untuk Livia berpisah dengan semua sahabat2nya setelah acara prosesi wisuda selesai. Saat di pertengahan acara, Livia sempat menangis sesenggukan karena mengingat banyaknya kenangan manis yang telah mereka buat bersama yang saat itu juga harus dia tinggalkan. Dan pada akhir acara, Livia tak mau kehilangan kesempatan untuk berfoto ria bersama sahabat2nya, bercanda dengan mereka untuk yang ke terakhir kalinya sebelum mereka semua pergi meninggalkannya begitu juga sebaliknya. Tetapi hanya 1 orang yang menolak untuk foto dengannya saat itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Arsya sendiri, padahal Fian, Romi, Marvel, dan Nuri mau memberikan kesempatan pada Livia untuk foto bersama diri mereka secara bergantian, setelah Arsya dibujuk rayu dan akhirnya dia tetap menolak ajakan itu, Livia pun menyerah dan membiarkan Arsya dalam kesenangannya sendiri. Dari jauh Livia menangis melepaskan kepergian Arsya dan dari jauh pula Livia mengucapkan selamat tinggal pada Arsya untuk selama-lamanya.

===== THE END =====

Oleh : “ D’aNgeL oF RizVia ”
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

Cerpen Pershabatan : ANTARA CINTA dan SAHABAT

Senin, 29 Juni 2015





Cerpen Pershabatan : 
ANTARA CINTA dan SAHABAT




Hidup akan indah bila kita masih memiliki seseorang yang kita sayangi, seperti via, via masih memiliki orang tua yang sayang dengannya dan saudara laki-lakinya yang sangat menggemaskan yang masih kelas 4 SD. Serta tak luput mempunyai seorang sahabat yang baik yang selalu bersama ketika dia duka, lara pun senang. Via mempunyai sahabat dia bernama Mia dan Rahma. Kemana-mana kami selalu bersama seperti layaknya besi dan magnet yang sulit dipisahkan. Mereka pertama kenal ketika pertama MOS dan memulai sekolah di SMA, Ketika itu Rahma duduk sendirian dan tak sengaja Via menghampirinya dan berkenalan. Setelah mereka berbincang-bincang cukup lama datanglah seorang anak perempuan cantik putih bertahi lalat di bawah bibir yang tipis. Tahi lalatnya itu membuat wajahnya menjadi manis dan disegani oleh kaum Adam.

Cerpen Antara Cinta dan Sahabat
“Hai…. Rahma dah lama nunggunya yah???” kata perempuan itu

“Ea… lama banget, kamu dari mana saja???? kata Rahma
  
“Maaf yach aku berangkatnya siang, soalnya bangunnya kesiangan… hehehe” jawab Perempuan yang berbicara dengan Rahma sambil tersenyum.

“Oa,untungnya ada Via yang menemani aku di sini, Mi kenalin ini Via teman sekelas kita juga lho. Oya vi kenalin ini teman satu bangku aku namanya Mia” kata Rahma sambil memperkenalkan temannya.

“Kenalin aku Via, aku duduknya di samping tembok dekat pintu sama Ovie” kata Via memperkenalkan dirinya kepada Mia.

“Aku Mia, low boleh tau lo tinggalnya dimana”?? Tanya Mia kepada Via.

“Aku aslinya Banjarharjo, tapi di sini aku ngekost” jawab Via.

“Kapan-kapan kita main ke kostnya Via, Gimana,?? Rahma lo juga ikut yach”?? Mia melontarkan pertanyaan kepada Rahma.

“Itu ide yang bagus kita selalu kumpul-kumpul bareng di kosannya Via, Gimana kalau kita buat genk saja?” usul Rahma.

“Aku setuju dengan pendapatmu. Nanti kita buat kaos yang sama, tapi dipikir-pikir nama genk nya apa yach”?? Mia menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal karena begitu bingungnya.

“Tapi maaf teman-teman bukannya gw menolak, tapi aku bener-bener gak setuju dengan pendapat kalian, aku ingin bersahabat dengan kalian. Tapi aku gak suka buat genk-genk seperti itu, takutnya kalau kita buat genk, banyak teman-teman yang benci dan iri.” jelas Via.

“Yah Vi, tapi……….”

Sebelum Mia melanjutkan pembicaraannya bel sekolah pun berbunyi tanda peserta MOS kumpul di halaman sekolah untuk diberikan arahan dan himbauan dari kepala sekolah.

Sungguh ribet dan susah kembali menjadi peserta MOS harus menggunakan kostum planet yang sungguh menyebalkan itu seperti pake kaos kaki yang berbeda,tasnya menggunakan kantong kresek,rambutnya di ikat lebih dari 10 buah,sungguh membosankan dan menyebalkan ketika dimoment-moment MOS seperti ini.

Setelah kumpul di lapangan Rahma dan Mia senyum-senyum sendiri, dan aku bingung kenapa mereka senyum-senyum tanpa sebab. Adakah sumbernya kenapa mereka senyum-senyum sendiri. Setelah aku perhatikan ternyata mereka tersenyum ketika melihat kakak Osis. Dan kemudian aku bertanya kepada Rahma,”Rah, kamu dan Mia senyum kenapa??” Tanya Via dengan penasaran.

“Asal kamu tau aja ya Vi, aku dan Mia itu ngefans banget sama anak kelas X-2 itu, terus gw jatuh cinta sama cowok itu katanya sih namanya Dana”. jawab Rahma.

“Yang mana?” Tanyaku lagi.

“Itu yang paling cakep sendiri, Oa aku juga ngefens banget ama kakak OSIS jangan bilang sama Mia yach kalo aku ngasih tau ke kamu, aku itu ngefans banget sama Ka’ Zaenal sedangkan Mia ngefens sama ka’ Adit”. jelas Rahma.

“okey, tenang saja Rahma gw pasti gw bisa jaga rahasia ini kok, dijamin gak bakal bocor dech…….” kataku.

“Aku percaya kok sama kamu….. halah kaya ember saja bocor… . hehehehe”. Rahma sambil ketawa

Ketika asyik berbicara ternyata banyak pengarahan yang diberikan oleh kepala sekolah, sungguh menyesal sekali ku ini tidak mendengarkannya. Padahal banyak manfaatnya bagi kita khususnya bagi pelajar. Setelah beberapa lama kemudian peserta MOS di bubarkan.

Via sedang berfikir sepertinya enak sekali rasanya ketika menjadi anak SMA. Sama seperti yang Via rasakan saat ini Via ingin cepat-cepat menggunakan baju putih abu-abu dan agar cepat diresmikan menjadi murid SMA, rasanya lama sekali menunggunya waktu seperti itu. Apalagi, rumahnya sangat jauh dari sekolah sungguh enaknya jauh dari orang tua dan bebas untuk pergi-pergi kemanapun yang kita inginkan bersama teman-teman barunya. Tapi Via harus bisa mengendalikan diri dari pergaulan di zaman edan seperti ini, kalau kita mengikutinya maka kita akan masuk ke dalam jurang neraka yang isinya orang-orang berdosa.

Kicauan burung menari-nari di angkasa, Sungguh indah bila ketika memandangnya. Embun pagi menyejukan hati Semerbak wangi mawar membuat segar perasaan kita. Indahya alam ciptaan tuhan yang maha esa, Tak ada yang bisa menandinginya,Karena tuhan adalah sang kholik pencipta alam semesta.

Ricuhan murid-murid SMA bagaikan burung-burung yang sedang menyanyi-nyanyi. Murid-murid mulai berdatangan menuju sekolah untuk menuntut ilmu, walaupun ada yang niat sekolah hanya ingin mendapatkan uang jajan dan ingin memiliki banyak teman. Murid-murid berdatangan ada yang naik motor, sepeda, naik bus mini, angkot, diantar orang tuanya menggunakan mobil, adapun jalan kaki.
Bel sekolah pun berbunyi sebagai tanda waktu pelajaran dimulai. Murid-murid dengan tenang belajar di sekolah. Hening sepi keadaan di sekolah bagaikan tak berhunikan makluk, Seperti di hutan sepi sunyi.

Bel istirahat pun berbunyi, murid-murid bagaikan pasukan burung yang keluar dari sangkarnya menuju kantin gaul bu ijah. Perut mereka terjadi perang dunia ketiga mereka berebut makanan dan cepat-cepat mendahulukan mengambil makanan.

Aku tak nafsu untuk pergi ke kantin dan aku beranikan diri pergi ke perpustakaan.Setelah lamanya aku diperpustakaan datanglah seorang cowok ganteng yang diidam-idamakan oleh Rahma sahabatku sendiri.

“Hai…….vi kok sendirian saja disini.” kata cowok itu yang bernama Dana.

“Yah…. teman-teman aku lagi ke kantin, padahal aku diajak kekantin sama mereka, tapi aku pengennya pergi ke perpustakaan……. hehehe” kataku pada Dana.

“Oa…… kamu les di Prima Eta yach??” Tanya Dana.

“Eah…..kok kamu tau sich…” jawabku.

“Kan aku juga les disitu,terus gw juga sering merhatikan kamu lho!!” kata Dana.

“Memang kamu kelas X apa?, kok gw gak pernah lihat kamu?”

“Ruang X-B. oa,kamu ruang X-A ya?”

“yapz……….”

Aku tak ingin dekat-dekat dengan Dana, Tapi aku juga punya perasaan sama Dana aku bingung kalau aku berdekatan sama Dana nanti Rahma cemburu. Kemudian ku pamit sama Dana.

“Dan aku mau ke kelas dulu” kataku pada Dana.

“Owg…..eah Vi silahkan”
  
Kemudian aku menuju ke kelas, sebelum masuk ke kelas, di jalan aku ketemu Rahma. Aku menyapa Rahma dengan senyuman. Tapi apa yang Rahma kasih padaku, Rahma bersikap sinis. Aku bingung kenapa Rahma bersikap seperti ini kepadaku, Kemudian aku mencari Mia. Aku ingin menanyakan kepada Mia. Tentang sikap Rahma kepadaku. Setelah kutemukan Mia, ku langsung menanyakan kepada Mia.

“Mi,aku boleh nanya sesuatu kepadamu gak?” tak sengaja air mataku membanjiri wajahku yang lembut ini.

“Nanya tentang apa?”

“Tadi aku ketemu Rahma, aku nyapa dia, Tapi dia cuek, malah dia bersikap sinis kepadaku, Apa salahku Mi”.

“Apa benar tadi kamu janjian sama Dana di perpustakaan, kok kamu bisa ngehianatin sahabat sendiri sich”.

“Mi, tadi itu, aku gak sengaja ketemu Dana di perpustakaan, sumpah aku sebelumnya gak janjian, tolong bantuin aku, untuk jelasin ke Rahma Mi.”Aku memohon ke Mia agar dia bisa bantuin aku untuk jelasin ke Rahma.

“yach udah….gimana kalau pulang sekolah gw temuin kalian berdua”

“Terserah kamu Mi, yang penting Rahma tidak salah paham sama gw”
  
Kemudian setelah pulang gw nungguin Mia dan Rahma di kantin gaul,setelah beberapa lama aku nungguin munculah mereka dari balik kelas.setelah aku melihat Rahma.Aku langsung peluk Rahma dan aku teteskan air mataku.kemudian aku memohon-mohon agar Rahma mempercayai penjelasin yang diberikan oleh aku padanya.

“Rah, plis dengar penjelasan aku, aku gak ada hubungan apa-apa sama Dana, mana mungkin aku ngehianatin sahabat sendiri.”

“terus kenapa tadi kalian berdua ketemuan di perpustakaan.” Tanya Rahma.

“Aku gak sengaja ketemu di perpustakaan Rah, kalau kamu masih gak percaya, gimana kalau kamu nanya langsung sama Dananya?”

“owg………..yach dech aku sekarang percaya kok sama kamu, masa aku percaya sama orang lain daripada sahabat sendiri, maafin aku juga yach Vi,,”.

“Memangnya tadi siapa yang bilang sama kamu”.

“Sudah, gak usah dibahas, gak penting”.

Aku bingung kenapa Rahma langsung maafin aku, padahal aku baru sebentar jelasin kapada Rahma. leganya perasaanku ini.

“Makasih Rah”.

Kemudian kami pun saling berpelukan rasanya senang banget ketika kami baikan kembali. Setelah pulang sekolah, Aku seperti biasa membuka kembali buku pelajaran. Setelah ku membuka buku, tak sengaja ku temukan secarik kertas yang beramplop. Ku buka perlahan-lahan, tapi kenapa jantungku ikut berdetak lebih kencang. Kubaca perlahan-lahan.

Dear Via…. 

Izinkan aku untuk berkata jujur padamu, Sebelumnya ku minta maaf kalau aku sudah lancang mengirim surat ini. Aku sadar, aku bukan apa-apanya kamu. Aku juga tak pantas memilikimu. Tapi semakin ku pendam perasaan itu, semakin sesak rasanya dadaku ini kalau tak segera ditumpahkan.
Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Tapi tiap kali aku ingin melepaskan diri darimu, Tapi tiap kali itu aku ingin semakin kuat untuk memelukmu. Dan aku merasa heran mengapa perasaan ini hanya terjadi padamu, mengapa tak tumbuh pada gasdis-gadis yang lain, Bagi anak-anak lain mungkin menilainya, Mereka lebih cantik darimu?
Tetapi ini perasaanku, Aku justru suka padamu tak hanya karena kecantikanmu, Tapi juga karena innerbeauty mu sungguh menarik bagiku. Aku tak ragu lagi memilih gadis semacam kamu. Kamu ini memang tak ada duanya di dunia ini. Sudah beberapa lama ku pendam perasaan ini tapi baru kali ini ku beranikan diri utuk menyatakan kalau aku “CINTA dan SAYANG”sama kamu. Maafkan aku kalau aku tak gentel seperti anak laki-laki lain yang mengutarakan langsung di depan wajah dan bertemu langsung empat mata. 

Tapi kalau kau mau agar aku langsung mengutarakannya aku akan mencoba, besok kita ketemu pulang sekolah di kelas X-9.

Orang yang mencintaimu
Adytia Pradana Putra

Aku bingung,Aku tak tau harus berbuat apa. Aku bingung memilih salah satu ini CINTA atau SAHABAT. Kata-kata itu selalu menggoyang-goyang pikiranku. Aku punya persaan sama Dana dan aku juga gak mau menyakiti perasaan sahabatku. Kenapa bisa terjadi pada aku, kenapa tidak Mia??? Bukanya aku iri pada Mia, tapi karena perasaan bingung ini jadinya aku tak sadar menyalahkan Mia.... ya tuhan tolonglah diriku ini, aku harus berbuat apa?.

Kemudian aku berfikir, aku sudah janji hidup dan matiku akan ku pertaruhkan demi sahabatku yang ku sayang. Aku relakan Dana untuk sahabatku Rahma. Aku tak ingn melihat sahabatku sedih.
Aku sudah punya keputusan, aku gak akan terima Dana jadi pacarku, Tapi aku akan bersujud di depan Dana dan bermohon-mohon agar Dana mau jadi pacarnya Rahma. 

* * * * * * sekian * * * * * * * *


cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya....cinta yang sebenarnya adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih tetap menunggunya dengan setia....
cinta yang sebenarnya adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata "aku turut berbahagia untukmu wahai SAHABATKU"

Oleh : Eka Octav
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

Sabtu, 27 Juni 2015

Cerpen Cinta: DIRIMU ABADI

Sabtu, 27 Juni 2015





Cerpen Cinta:
DIRIMU ABADI



“Diri ini tak pernah bisa mengerti mengapa harus begini jalannya. Saat waktu tak lagi jadi penghalang, saat restu bukanlah rintangan, tapi 1 hal yang tidak pernah terpikir akan terjadi. Tapi tenanglah, tak akan ada yang bisa menghapusmu...!!!”

“Cheese!” *jepret
Adinda Karenia & Indra Mahardika! Ku sisipkan nama kami berdua di foto itu beserta latar yang kupilih berwarna biru muda karena aku sangat menyukai warna itu. Sungguh lucu gaya yang kami tampilkan saat berfoto di photobox tadi. Setelah selesai, kami membayar dan melanjutkan perjalanan kami di salah satu mall ternama di kotaku. Kuamati foto itu sebentar lalu ku berikan satu untuknya dan satu untuk ku simpan di dalam dompetku.
Setiap weekend aku dan Indra selalu menyempatkan jalan bersama untuk sekedar nonton atau cuma muter-muter gak jelas di dalam mall, karena kalo bukan weekend kami cuma ketemuan atau ngobrol di rumah aja. Yaa paling tidak untuk melepas stress dan mempererat hubungan kami. Aku dan Indra sudah dua tahun pacaran. Bisa dibilang jalan 3 tahun. Kami berpacaran sejak kelas 1 dan sekarang kami sudah kelas 3 SMA.
“Bem, makan yuk!” ajaknya.
“Yuk, aku juga udah lapar nih ko,” balasku.
Indra selalu manggil aku Bem alias tembem dari awal kenal. Mungkin karena pipi aku yang memang chubby kayak bakpow, dan sampai sekarang itu jadi panggilan kesayangan dia buat aku. Aku juga punya pangilan kesayangan buat dia yaitu koko karena mata di yang hampir gak keliatan kalo lagi senyum alias sipit karena emang ada keturunan tionghoa dari papahnya.
Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk pulang karena emang udah malam dan capek juga seharian muter-muter mulu. Sampai di depan rumah aku, Indra nganterin aku sampai ketemu kedua ortu aku. Katanya gak baik kalo cuma nganter cewek mpe depan pagar trus gak dibalikin lagi sama kedua orang tuanya. Kebetuan papah sama mamah aku lagi ngobrol di teras depan.
“Om, Tante. Dindanya saya balikin dengan selamat Om, maaf lama pulangnya,” sapa Indra sambil sedikit bercanda gurau dengan kedua orang tuaku.
“Haha, gak apa-apa. Asal anak Om masih tidak kurang suatu apapun, Om masih ijinkan kamu berhubungan dengan Dinda. Gak masuk dulu nak Indra?”
“Oh, makasih Om. Kayaknya sudah malam dan Dinda juga perlu istirahat. Saya Cuma antar pulang aja. Kalau begitu saya pamit pulang Om, Tante.”
“Iya, hati-hati Indra,”sahut mamaku.
“Bem, aku pulang ya,” pamitnya padaku sebelum pulang dan mengelus kepalaku.
“Iya, hati-hati ko!” sahutku.
Setelah ku lihat mobil Indra menghilang di ujung jalan, akupun masuk ke dalam rumah. Kedua orang tuaku masih mengobrol di teras depan. Karena gak ada kerjaan lagi aku masuk ke dalam kamar. Menjadi anak tunggal membuatku sepi berada di rumah, apalagi saat kedua orang tuaku sedang dinas di luar kota. Hanya Indra dan beberapa temanku yang datang ke rumah dan menemaniku lewat SMS. Karena kecapean, akupun terlelap tidur.
***
Pagi ini hari begitu cerah, menambah semangatku untuk bertemu teman-temanku dan juga koko pastinya. Ku samberi kelasnya, tapi tidak ku temui Indra di sana.
“Din, nyari Indra ya? Tuh lagi di lapangan.” Sahut salah satu teman sekelas Indra padaku.
“Oh, makasih ya.”
Akupun menyusuri koridor sekolah menuju lapangan basket. Indra memang salah satu pemain di tim basket sekolahku. Mungkin boleh di bilang bukan cuma jadi pemain, tapi dia juga kapten basket di timnya. Tidak heran ia jadi cukup terkenal di sekolah dan di gandrungi banyak fans cewek.
Baru saja aku sampai di sekitar lapangan, riuh suara cewek-cewek sudah terdengar memanggil nama Indra.
“Indra, Indra, Indraaa...”
Aku sudah terbiasa mendengarnya. Bahkan selama dua tahun ini menjadi hal yang selalu ku dengar saat menonton Indra tanding basket. Kalo dibilang cemburu, awal-awalnya sih iya. Tapi ke sini-sini udah kebiasa. Yaah... udah jadi angin lalu lah istilahnya. Emang harus berani nerima resiko kayak gini kalo jadi pacar orang yang diidolain banyak cewek. Selama Indra gak macem-macem di belakang gue, all it’s fine!
“Eh Din, udah dateng loe?” sapa Dela, sahabat ku yang paling ku sayangi.
“Iya, baru aja. Udah lama ya Indra latihan?” tanyaku.
“Hmm, lumayan sih. Bentar lagi juga paling selesai. Emang loe tadi berangkat gak bareng Indra?”
“Emm, kebetulan enggak. Gue tadi nemenin nyokap dulu ngambil pesanan kue, besok kan ultah gue. Eh nanti temenin gue nyebarin undangan ya ke temen-temen yang lain!”
“Sip deeh... eh, tu Indra udah selese latihan!” ujar Dela sambil menunjuk pemain-pemain basket yang duduk beristirahat di sisi lain lapangan.
“Oh, gue ke sana dulu ya Del, mau nyamperin Indra.”
“Oke! Gue tunggu di kelas ya!”
Kusamperin Indra dan memberikannya sebotol air mineral dan handuk kecil.
“Makasih Bem! Eh, udah belum nyebarin undangan buat besok?”
“Belum Ko, ntar aja pas istirahat bareng Dela. Kamu mau ikut?” tanyaku.
“Istirahat ya? Aduh maaf, aku ada ulangan susulan sama Pak Fandy ngambil jam istirahat. Maaf ya Bem gak bisa nemenin,” jawabnya dengan wajah beersalah.
“Iya, gak apa-apa kok. Ganti baju dulu sana, udah basah gitu. Nanti gak konsen lagi belajarnya.”
“Iya, iya Bem. Kamu ke kelas gih, nanti Pak Bagus keburu masuk, kamu gak dibolehin masuk kelas lagi.”
“Oh iya! Duluan ya Ko. Sukses nanti ulangannya, oke! Dadaah..”
Setelah melewati pelajaran Matematika Pak Bagus yang super killer itu, bel istirahat berbunyi. Aku dan Dela segera berkeliling mendatangi setiap kelas yang akan kubagikan undangan ulang tahunku.
Jam sekolahpun selesai. Aku menunggu Indra mengambil mobilnya di gerbang sekolah. Aku berencana pulang bersama Indra. Di dalam mobil aku dan Indra berbincang-bincang masalah persiapan ulang tahunku besok.
“Bem, kue udah di ambil?” tanyanya.
“Udah Ko tadi sama mama. Tinggal dekor aja besok,”jawabku.
“Oh, bagus deh. Jadi nanti gak gelabakan. Bem, mau minta hadiah apa dari aku?”
“Iiih, gak so sweet banget sih, masa hadiah aku yang request. Gak surprise lagi kan jadinya,” balasku dengan wajah cemberut.
“Hehee, iya Bem. Aku bercanda kok. Besok tunggu aja hadiah dari aku, oke! Jangan gitu dong mukanya, kaya bebek tau, hahaa..”
“Gak lucu tau Ko!”
“Yee, bisa juga ya ngambek ternyata. Entar kita cari ice cream deh. Ya, ya?”
Yang namanya Adinda pasti luluh kalo udah ditawarin ice cream. Gak jadi deh adegan ngambeknya. Habis nyari ice cream, Indra ngantar aku pulang. Kebetulan papa sama mama masih di kantor jadi Indra nganter aku sampai depan pagar aja.
Habis ganti baju, sholat trus makan, aku kembali ke kamarku dan menghidupkan laptopku. Aku menyelesaikan beberapa tugas sekolahku yang belum rampung sambil membalas pesan singkat dari Indra. Tiba-tiba pikiranku melayang membayangkan kado apa yang bakal Indra kasih buat aku. Dulu ulang tahun aku yang ke-15 dia kasih boneka loli and stich yang super gede. Ulang tahun yang ke-16 dia ngasih album yang isinya foto-foto aku semua yang dia potret tanpa sadar. Aku lagi makan di kantin lah, duduk di taman, lagi jogging, pokoknya dia foto aku tanpa aku sadari. Dan kali ini untuk sweet seventeen dia ngasih apa ya?
Lamunanku buyar mendengar suara mama dari bawah yang menyuruhku mandi. Udah berapa jam ya aku ngelamun? Ku lihat jam menunjukkan jam 6 sore. Pasti mama dan papa baru pulang kantor. Setelah mandi dan berpakaian, akupun turun dan menuju meja makan. Ku lihat mama dan papa sudah siap di meja makan.
“Din, undangan kamu buat besok udah dibagiin?” tanya mama padaku.
“Udah Ma, tenang aja...” jawabku meyakinkan mama.
“Oh, iya jangan lupa undang mama papanya Indra juga ya Din! Trus pulang sekolah besok kamu harus langsung pulang, bantuin Mama nyiapin semuanya,” tambah papa.
“Oke Pa,” balasku.
***
Keesokan harinya, sepulang sekolah aku ke rumah Indra untuk mengundang kedua orang tuanya untuk turut hadir di pesta ulang tahunku. Aku pulang sendiri karena Indra ada jadwal latihan basket  yang tidak bisa ia tinggalkan. Tapi dia berjanji akan datang di acaraku tepat waktu. Setelah ngobrol beberapa waktu dengan kedua orang tua Indra aku pamitan pulang karena masih harus membantu Mama menyiapkan segala keperluan di rumah.
Waktu menunjukkan hampir jam 7 malam. Ku lirik keadaan diruang tengah dari pintu kamarku, banyak yang sudah datang. Lega hatiku ketika diantara tamu yang datang ada Indra bersama mama dan papanya. Lalu mama menggilku untuk turun. Akupun menuruni tangga. Serasa jadi putri semalam, apalagi aku memakai long dress berwarna putih.
Acara tiup lilin Mama menyuruhku meniup lilin bersama Indra. Kamipun make a wish bersama lalu meniup lilin. Potongan kue pertama ku berikan kepada Mama dan Papaku. Yang kedua tentu kuberikan kepada Indra. Yang ketiga ku berikan kepada kedua orang tua Indra lalu kepada Dela.
“Sweet seventeen ya Dindaa,” peluk Dela lalu memberikan kado padaku.
“Makasih ya Del,” senyumku terharu.
Ku lihat seluruh teman-temanku sedang mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Mama dan Papa Indra juga sedang asik berbincang dengan kedua orangtuaku. Lalu Indra menghampiriku.
“Bem, selamat ulang tahun ya. Ucapannya semua udah aku ucapin panjang lebar kan di telpon malam tadi. Naah, sekarang giliran kadonya,” Indra mengulurkan tangannya yang memegang sebuah amplop. Kuambil amplop itu dengan perasaan bingung akan isinya.
“Iya, makasih yaa Ko. Tapi ini apa? Aku buka ya?” tanyaku masih dengan perasaan bingung.
“Eeh tunggu, tunggu! Bukanya nanti aja,” cegahnya.
“Loh, kenapa? Masa masih harus nunggu lagi!” jawabku dengan nada kecewa.
“Pokoknya bukanya nanti aja ya. Pas kita lulusan, oke!” bujuknya.
“Hmm, iyadeh.”
Malam sweet seventeenku berjalan dengan lancar. Aku mendapatkan banyak sekali kado dari teman-temanku. Tapi perasaan kecewa, bingung dan penasaran masih menyelimuti pikiranku. Apa sebenarnya isi amplop yang diberikan Indra? Ingin sekali rasanya ku buka. Tapi... lebih baik jangan! Aku sudah berjanji untuk membukanya saat lulusan. Hmm, gak apa-apalah, lagian cuma 3 bulan lagi.
***
Hari berganti hari. Gak kerasa masa-masaku dibangku SMA akan segera berakhir. Les tambahan setiap harinya untuk kelas 3 sedang kami alami. Soal-soal latihan untuk persiapan UN kami latih sesuai jurusan masing-masing. Kegiatan sekolahpun mulai dikurangi. Tapi masih ada 1 pertandingan basket antar pelajar yang harus Indra ikuti. Untuk itulah jadwalnya kurang bisa di atur. Sering kecapen pulang les langsung latihan dan malamnya langsung tidur. Komunikasi kami jadi jarang. Tapi tak apalah, aku mengerti kondisinya. Lagipula aku juga masih bertemu dengan Indra di sekolah dan mensupportnya setiap latihan.
Sore itu aku menonton Indra tanding. Pertandingan persahabatan antar SMA yang akan bertanding di kejuaraan kabupaten. Aku duduk di kursi penonton, sama seperti yang lainnya. Pertandingan mendekati menit-menit akhir. Skor tim Indra ketinggalan 1 point, dan tembakan Indra inilah menjadi penentunya. Indra pun me-shoot dan ternyata bola itu tidak masuk ke ring. Bel akhir pertandingan berbunyi dan pertandingan dimenangkan oleh sekolah lain.
Ku lihat semua teman-teman Indra kecewa. Ku hampiri mereka. Lalu terjadi adu mulut antara Indra dan Raka, salah satu pemain basket dan juga teman dekat Indra.
“Dra, apa-apaan sih cara main loe? Yang serius dong. Kita udah mau kejuaraan nih. Masa bola gitu aja loe gak bisa masukin! Udah berapa lama loe main basket, hah? Kenapa jadi cupu gitu mainnya tadi? Gimana kejuaraan mau menang kalo shooting gitu aja loe gak bisa. Percuma loe jadi kapten!” sahut Raka dengan emosi.
Indra hanya bisa terdiam. Akupun tak bisa berkata apa-apa. Aku juga tidak mau ikut campur terlalu dalam, karena jika ku angkat bicara sekarang pasti suasana akan lebih rumit. Ditambah lagi emosi mereka yang masih kurang stabil. Raka dan yang lainnya pun meninggalkan Indra yang masih terduduk lemas menyesali kesalahannya.
“Ko, kamu gak apa-apa kan?” tanyaku.
“Gak apa-apa kok. Yuk kita pulang,” Indra berdiri, tersenyum padaku dan menggenggam tanganku menuju mobilnya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Indrapun mengantarku pulang.
“Ko, kamu beneran gaka apa-apa? Kamu ada masalah? Kalo ada cerita aja sama aku,” aku mengajaknya berbicara di dalam mobil.
“Aku gak ada masalah apa-apa,” lagi-lagi ia tersenyum padaku.
“Loh, kita mau kemana Ko?”
“Ngantar kamu pulang lah, mau kemana lagi emangnya?”
“Tapi jalan pulang ke rumahku kan belokan yang tadi Ko, kok kita lurus?”
“Astaga! Maafin aku, mungkin aku ngelamun.”
“Kamu beneran gak ada masalah apa-apa Ko? Tadi Pak Fandy ngomong sama aku kalau tugas kamu dan nilai-nilai ulangan kamu belakangan ini turun drastis. Kamu kan paling seneng sama pelajaran Bahasa Inggrisnya Pak Fandi, dan selalu topscore. Kalau ada masalah cerita deh sama aku,” bujukku lagi padanya.
“Percaya deh sama aku, aku bener-bener gak ada masalah apa-apa Din,” jawabnya.
Aku kaget. Untuk pertama kalinya ia memanggil namaku saat kami berbicara. Aku semakin bingung. Nilai-nilainya yang anjlok. Kemampuan basketnya yang menurun. Dan sekarang.... aku terdiam. Aku tidak bertanya apapun lagi kepada Indra. Aku berkecamuk dengan pikiranku sendiri. Saat sampai di depan rumahku, ia membukakan pintu mobilnya untukku lalu berpamitan pulang. Dia tidak mengantarku sampai bertemu orang tuaku?
Setelah kuucapkan untuk segera pulang dan menyuruhnya beristirahat, ia melaju dengan mobilnya. Kumasuki rumahku dan membaringkan tubuhku. Beberapa saat terdiam, aku berpikir ingin menelpon Mama Indra untuk menanyakan apakah Indra mempunyai masalah yang tidak diceritakannya padaku. Kutekan nomor teleponnya dan sebuah suara di sana menyambut panggilanku.
“Halo, ini Dinda ya? Ada apa Dinda?” tanya Mama Indra.
“Begini Tante, maaf mengganggu malam-malam begini. Saya mau bertanya sesuatu tentang Indra. Apa Indra punya masalah Tante?”
“Masalah? Setahu Tante gak ada Din. Kenapa kamu gak tanya sama Indranya sendiri? Kamu kan lagi sama Indra.”
“Loh? Dinda udah dari tadi di antar Indra pulang Tante, memangnya Indra belum sampai rumah Te?” tanyaku cemas.
“Masa? Belum Din, dia belum sampai rumah. Coba Tante hubungin dia dulu. Nanti Tante beritahu kamu kalau Indra udah pulang atau kalau memang Indra ada masalah.”
“Baik Tante,” jawabku mengakhiri pembicaraan.
Indra belum pulang? Kemana lagi dia? Bukannya tadi aku suruh dia langsung pulang. SMS ku juga gak dia balas. Ada apa sebenarnya dengan kamu Indra?
***
Keesokan harinya, aku mencari keberadaan Indra di sekolah. Ku cari di kelasnya, kata teman-temannya dia belum datang. Ku lihat di lapangan basket cuma ada Raka dan teman-teman se-timnya Indra yang sedang latihan. Ku telpon nomornya, gak aktif. Ku SMS juga gak di balas. Bahkan nomor Mamanya Indra juga ikut-ikutan gak aktif.
Sepulang sekolah aku mengajak Dela menemaniku ke rumah Indra. Tapi sesampainya di rumah Indra, rumah itu kosong. Ku panggil beberapa kali tidak ada sahutan. Kemana mereka semua? Kenapa kayak ditelan bumi gini?
“Din, kita pulang aja yuk. Pasti pikiran kamu lagi gak karuan sekarang.”
“Tapi Del, Indra gak ada. Orang tuanya gak ada. Semuanya gak ada Del, gak ada!” tangisku tak tertahan lagi, dan Dela merangkulku, membawaku pulang kerumah.
Seminggu sudah tak ada kabar tentang Indra begitu juga tentang kedua orangtuanya. Ku tanya Raka dan semua teman-teman yang mungkin mengetahui keberadaan Indra tapi hasilnya nihil. Mereka juga mencari keberadaan Indra untuk menghadapi kejuaraan. Kedua orangtuaku pun mulai menanyakan tentang Indra yang tidak pernah ke rumah lagi dan tidak pernah mengajakku jalan lagi. Aku hanya bisa menjawab kesibukan kami menjelang UN dan jadwal basket Indra yang padat membuat kami terpaksa jarang bersama. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak mungkin bilang kalau Indra dan keluarganya hilang entah kemana.
Siang itu, saat aku sedang menangis memeluk boneka lilo and stich pemberian Indra, handphoneku berbunyi. Ku lihat nama yang tertera di Hp-ku, ‘Tante Dara’. Itu, itu Mama Indra!
“Halo, halo Tante! Tante dimana? Indra dimana sekarang?” tanyaku langsung masih dengan isakan tangis.
“Dinda, kamu bisa tenang dulu. Kamu bisa ke rumah Tante sekarang Din?”
“Bisa, bisa Tante,” jawabku cepat.
“Tapi kamu datang sendiri aja ya Din. Tante tunggu!”
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil kunci mobil dan bergegas ke rumah Indra. Setelah 1 minggu tidak ada kabar sama sekali tiba-tiba Tante Dara meneleponku tanpa penjelasan apapun. Dan setelah sampai di rumah Indra akupun sudah tidak dapat menahan rasa khawatirku.
“Tante, Indra mana Tante? Tante dan Indra kemana aja selama ini?” tanyaku.
“Ayo kita ke kamar Indra, Din. Nanti kamu akan tahu,” jawab Tante Dara.
Sesampainya di pintu kamar Indra, Tante Dara menyuruhku masuk. Entah mengapa aku merasa tidak siap saat itu. Tapi Tante Dara menatapku, memberiku keberanian untuk masuk. Kubuka pintu kamar Indra, kulihat dia sedang duduk di sudut kamar sedang memegang sebuah kertas yang tidak terlihat olehku dari sini.
“Ko, ini aku Dinda,” kataku pelan.
“Dinda? Dinda, jangan ke sini, pergi! Jangan mendekat! Pergi! Pergi!,”
“Tapi Ko, ini aku. Aku pengen ketemu kamu.”
“Pergi!Pergi!” teriaknya.
Aku tak dapat menahan air mata yang mulai membasahi pipiku. Apa yang terjadi dengan Indra? Segera aku keluar dari kamarnya. Di luar Tante Dara melihatku dan menghampiriku.
“Dinda, apa kamu sudah bicara dengan Indra?”
“Tante, sebenarnya apa yang terjadi dengan Indra? Kenapa dia jadi kayak gitu? Tante, tolong jelasin sama Dinda, selama ini Tante sama Indra kemana? Kenapa Indra jadi gitu?” tangisku melebur jadi satu dengan semua pertanyaanku.
“Din, Indra menderita penyakit alzeimer. Penyakit yang lama kelamaan akan menghapus ingatan si penderita. Maafkan Tante Din, tidak memberi kabar padamu. Ini permintaan Indra. Malam itu setelah mengantar kamu pulang, Indra tersesat mencari jalan pulang. Untung handphonenya aktif dan dia bilang di ada di depan sekolah SD nya dulu, Tante dan Om pun menyusulnya ke sana. Dia bahkan tidak ingat telah mengantarmu pulang. Saat sampai di rumah, dia bahkan lupa di mana kamarnya. Penyakit itu memang akan menghapus ingatan-ingatan terbaru dahulu. Untuk sesaat ia bisa mengingat tapi perlahan-lahan ia lupa banyak hal. Ia lupa untuk berangkat sekolah besok harinya, ia lupa untuk makan. Tante memberitahunya satu-persatu agar dia ingat. Tapi itu bertahan sementara. Ia semakin frustasi mengetahui dirinya semakin bodoh akan banyak hal. Tapi yang dia minta saat itu sama Tante, “Ma, jangan bilang Dinda kalau Indra seperti ini. Sembuhin Indra Ma, Indra gak mau kelihatan kayak gini di depan Dinda!’. Yang masih dia ingat jelas cuma kamu Dinda, cuma kamu! Akhirnya Om dan Tante pergi untuk mengobatinya. ”
Air mataku semakin tak terhenti.
“Lalu bagaimana keadaan Indra sekarang Tante?”
“Ia sulit untuk disembuhkan. Ia memang sangat ingin sembuh untuk kamu. Tapi ia selalu memberontak saat di terapi. Ia selalu tidak karuan. Tante tidak tahan melihatnya seperti itu, akhirnya Om dan Tante memutuskan untuk membawanya pulang saja. Dan lihat sekarang ia tenang seperti itu di kamar. Tapi entah mengapa dia berteriak saat bertemu kamu. Tante kira dia sangat ingin bertemu kamu.”
Alzeimer? Kenapa penyakit itu harus datang kepada Indra? Kenapa harus Indra?
Tante Dara menyuruhku pulang untuk menenangkan diri dulu. Melihat aku pulang dengan kedua mataku sembab dan tubuhku yang lemas, Papa dan Mama pun bertanya padaku. Aku menceritakan semuanya. Semua tentang hilangnya Indra dan keluarganya. Dan sekarang telah kembali dengan keadaan seperti ini. Kedua orang tuaku menenangkanku dan memberitahukanku bahwa semua akan baik-baik saja.
***
Aku, Papa dan Mama berlari menyusuri koridor Rumah Sakit. Setelah mendapat telepon dari Tante Dara kalau Indra sedang kritis di Rumah Sakit. Apa karena penyakit Alzeimernya itu?
“Tante, Indra kenapa?”
“Tadi pagi, Tante dan Om mencarinya di kamar tapi tidak ada. Saat Tante lihat di kamar mandinya, dia sudah tergeletak penuh darah di kepalanya  Din. Dia membenturkan kepalanya ke cermin,” jelas Tante Dara sambil memelukku.
“La.. lalu sekarang In.. Indra gimana Tante?”
“Dia sedang di UGD Din, Tante gak tau dia gimana sekarang Din. Tapi tadi saat membawa Indra ke Rumah Sakit, ia menggenggam buku ini,” Tante Dara memberikan sebuah buku yang sedikit basah dan bernoda darah.
“Tante tidak tau buku apa itu. Tapi tadi suster mengambil buku itu sesaat sebelum Indra dimasukkan UGDdan di berikan kepada Tante.”
Aku duduk di kursi di depan ruang UGD. Ku buka halaman pertama buku itu. Tertempel fotoku yang sedang memakai pakaian MOS dengan banyak pita warna warni di kepalaku. Sejak saat itukah Indra memotretku diam-diam? Ada tulisan di bawahnya. ‘Gadis Lucu yang Pertama Kali Ku Potret’. Ku buka lagi halaman demi halaman. “8 Oktober 2009 ‘I Get Her Heart’. Itu tanggal kami jadian! Ku buka lagi halaman-halaman berikutnya. Ada fotonya dengan boneka stich yang diberikannya untuk hadiah ulang tahunku ke-16, “aku sempetin foto sama boneka yang bakal aku kasih ke Mbem, Happy Birthday sayaang.. 08.03.2010”.
Air mataku menetes, namun kulanjutkan membaca buku itu. Ku buka halaman demi halaman.
“08.03.2012, sweet seventeen Bem. Aku ngasih dia hadiah yang dia mau selama ini. Kami akan pergi ke Bangkok setelah lulusan. Aku udah beli’in 2 tiket buat kami. Oh iya, dia cantik banget malam ini!”.
Jadi Indra telah menyiapkan hal istimewa itu buatku? Ku buka lagi lembaran-lembaran terakhir buku itu. Kubaca betul-betul apa yang tertulis di sana.
“12.04.2012, Mama bilang itu tanggal hari ini. Mama juga bilang kalau kemaren aku lupa jalan pulang bahkan lupa mengantar Dinda. Itulah mengapa alasan kami ada disini. Kedua orang tuaku bilang, kami lagi di Singapura. Barusan mereka bilang kalau aku terkena penyakit Alzeimer. Entah penyakit apa itu. Tadi mereka telah menjelaskannya padaku, tapi aku tidak ingat apa yang mereka katakan. Aku sangat kangen dengan Dinda. Aku ingin pulang, entah dimana itu yang pasti disana ada Dinda. Aku bingung sedang apa aku di tempat ini”.
“Kata kedua orang tuaku, kami sudah pulang ke rumah. Tadi Dinda datang, tapi aku takut melihatnya. Aku takut tak mengenalinya. Aku selalu menggenggam foto kami yang entah di ambil di mana saat itu”.
“Aku tadi meminta Mama mengajariku cara membaca lagi, juga cara menulis lagi. Ku lihat tulisanku yang dulu dan sekarang sangat berbeda. Mengapa aku sampai lupa dengan segala hal itu?”
“Tadi aku mendengar kedua orang tuaku membicarakan penyakitku. Ternyata aku lama-lama akan melupakan apa yang pernah terjadi di hidupku. Aku memutuskan untuk mengambil jalan ini. Maafkan aku Dinda karena sampai saat ini aku belum berani bertemu denganmu. Tapi kamu tidak perlu khawatir, hanya kamu yang masih bisa ku ingat jelas sampai saat ini. Aku terlalu lelah untuk belajar membaca dan menulis lagi. Tapi aku tidak perlu belajar untuk mmengingatmu. Aku hanya memikirkanmu. Aku hanya mengingatmu. Aku tidak ingin melupakanmu, dan pasti tidak! Aku berusaha keras untuk kembali seperti dulu untukmu. Aku takut ingatanku hilang lagi. Sebelum aku melupakannya, aku ingin mengatakan semuanya padamu. Aku mencintaimu. Sekali lagi maafkan aku. aku bersyukur kepada Tuhan karena aku tak harus bersusah payah mengingatmu, karena kau adalah bagian dari hidupku. Aku tidak ingin hidup jika harus melupakanmu. Aku berharap Tuhan mengambil nyawaku setelah aku melakukan hal ini. Aku ingin pergi di saat aku masih bisa mengingatmu. Dan kau akan menjadi yang abadi di ingatanku...”
***
“Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi nyawa Indra tidak bisa di selamatkan...” jawab dokter yang keluar dari ruang UGD tempat dimana Indra berada. Buku Indra terjatuh dari tanganku, dan tiba-tiba semua menjadi gelap di penglihatanku..............

Oleh : Asmi Tiovi Lasmatia Syariani
Diposkan oleh : Teddy Silvanus