Rabu, 26 Agustus 2015

Cerpen Cinta BIARKAN AKU MENCINTAIMU

Rabu, 27 Agustus 2015





Cerpen Cinta  BIARKAN AKU MENCINTAIMU



Saat pertama kali berbicara dengan Randika, ucapannya begitu sombong, terkesan meremehkan orang lain. Memang wajahnya sangat tampan, berkulit putih, dan tinggi atletis. Rambutnya yang lurus dan hitam berstyle korea sangat keren di mataku. Tapi bukan itu yang membuatku tertarik padanya. Oke, aku tidak munafik, aku memang suka wajahnya yang tampan. Tapi aku lebih suka pada sikapnya yang sedikit angkuh, penuh percaya diri, jujur, setia kawan, dan berpengetahuan luas.
Entah kenapa, baru kali ini aku sangat nyambung dan nyaman berbicara dengan cowok. Rasanya aku ingin terus mengobrol dengannya, soal apa saja. Mulai dari obrolan yang sangat tidak penting, sampai obrolan yang sedikit penting. Rasanya waktu di kampus untuk mengobrol dengannya sangat sedikit. Aku ingin bertemu setiap saat, ingin mengobrol setiap saat.

Saat aku mengirim sms padanya untuk pertama kalinya, jantungku berdebar tidak karuan. Apalagi saat ia membalas smsku, jantungku sepertinya hampir melompat keluar. Meskipun ucapannya pedas, tapi ia sering menasihatiku tentang banyak hal. Seperti misalnya, “Kau tahu, semua lelaki itu pembohong besar. Banyak rayuan dan tipu muslihat. Sebaik-baiknya lelaki, pasti punya tipu muslihat. Mulut manis tapi hati berkata lain. Ya seperti aku aku ini.”
“Yah, aku tahu.” ujarku malas-malasan.
“Aku serius. Yah, lelaki yang benar-benar baik memang ada, tapi sangaaaat jarang. Seperti temanku, Key.”

Aku tertawa menanggapi. Menurut Randika, Key yang baik, pendiam, dan pemalu menyukaiku. Tapi aku tidak suka padanya. Tentu saja, saat ini kan aku sedang tertarik pada Randika!
“Benar, Key itu baik. Kenapa kau tidak mencoba dengannya?”
“Sudahlah, jangan bercanda terus.”
“Coba saja tanya padanya. Atau kau dekati dia lalu kaulihat apa reaksinya.”
Aku menatapnya dengan senyum. “Aku tidak suka padanya.”
Randika mengangkat bahu.

Aku bersaing secara sportif dengan Hana, temanku, untuk memperebutkan Randika. Lucu sekali….
“Hai, lagi pada ngapain, nih?” Seorang perempuan datang mendekat dengan gayanya yang tomboy dan menyenangkan, Deswita. Aku, Hana, dan Deswita berteman dan ia tahu bahwa aku dan Hana menyukai Randika. Ia sangat dekat dengan Randika. Deswita menyayangi dan memanjakan Randika seperti adiknya sendiri, meskipun ia sudah mempunyai pacar, Farhan namanya. Tapi terkadang aku melihat Deswita lebih senang bersama Randika dibanding dengan pacarnya sendiri. Tapi tentu saja itu hanya pikiranku sendiri, karena tidak ada yang tahu isi hati orang.

Aku dan Hana sangat penasaran dengan isi hati Randika terhadap Deswita.
“Aku hanya menganggapnya kakak.”
“Bohong, ah.” Aku menatap matanya yang cokelat, mencari kebenaran.
“Kalian ini, kenapa selalu menanyakan hal itu terus-menerus, sih?” Randika tertawa. “Aku jadi tidak nafsu makan nih.”
“Maaf….”
Randika tertawa. “Aku hanya bercanda, kok.” Lalu ia meneruskan makan nasi gorengnya di kantin yang ramai.
Saat ulang tahun Randika, kami bertiga; Deswita, aku, dan Hana merencanakan ulang tahunnya diam-diam. Membuat pesta kejutan kecil-kecilan dengan kue dan kado. Sebenarnya ini rencana Deswita. Aku dan Hana hanya memberinya kado sedangkan Deswita memberi kado sekaligus kue ulang tahun. Aku sedikit iri, tapi aku mencoba menelan rasa iriku itu. Randika sangat terkejut dan terharu. Apalagi saat Deswita memberinya kado. Aku menatap wajah Randika yang berseri-seri saat menatap Deswita.

Bebarapa minggu kemudian aku mendengar kabar bahwa Deswita putus dengan Farhan, membuat hatiku was-was. Aku selalu melihat Randika menenangkan hati Deswita yang sedih. Banyak cewek yang mencemooh Deswita, mengatakan bahwa Deswita putus dari Farhan karena Randika. Tapi aku tidak memercayainya, karena aku tahu sifat Deswita. Ia mungkin sedikit suka pada Randika, tapi itu bukan cinta. Aku tahu Deswita memang akrab dengan banyak lelaki karena itu aku tahu Deswita tidak menganggap Randika lebih daripada adik.
“Munafik, Deswita itu cintanya pada Randika, bukan Farhan.” ujar Tasya, sahabat Farhan.
“Tidak begitu. Deswita hanya menganggap Randika adik.”
“Kau temannya, jelas kau membelanya!”
“Kau juga teman Farhan, jelas kau membelanya. Mungkin ada alasan lain kenapa mereka putus.” Aku menatap kesal pada Tasya.

Aku kembali bertanya tentang isi hati Randika. Dan ia tetap menjawab, “Hanya kakak.”
“Sungguh?”

Ia mengangguk.
“Ada cewek yang kausuka?”
“Tidak ada.”

Aku tersenyum senang mendengarnya. Tapi entah kenapa aku begitu polos entah bodoh percaya saja pada ucapannya. Karena dua minggu kemudian (aku baru saja datang dari kampung halaman-menghabiskan liburan) aku mendengar kabar dari Hana bahwa Randika dan Deswita jadian. Aku sangat shock mendengarnya. “Kau bohong, kan, Na?”
“Aku tidak bohong. Aku tahu hatimu sangat sakit saat ini. Tapi kau harus tenang. Deswita tidak bilang padamu karena ia menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya padamu. Ia tidak ingin gara-gara ini kau memusuhinya.”
“Kau sendiri bagaimana? Bukankah kau sangat menyukai Randika?”
“Aku menyukai Randika yang menyukai Deswita.” ujarnya tenang.
“Apa maksudmu?” Airmataku sudah tak terbendung lagi. Mata juga hatiku terasa panas.
Deswita memegang bahuku dengan sabar. “Aku sudah punya feeling dari dulu bahwa Randika menyukai Deswita. Tapi aku diam saja, aku tidak ingin membuatmu putus harapan. Dengar, Tiwi, kau jangan mengungkit apa pun pada Deswita sampai ia sendiri bicara padamu.”
Aku menggigit bibirku, aku terisak saat berkata, “aku tidak mau percaya ini, Na!” Aku menangis di bahu Hana, lalu ia menepuk-tepuk bahuku.
***

“Kau pengkhianat.” Aku menatap benci pada Deswita.
“Maaf…tapi aku tidak mengkhianati siapa-siapa.” Deswita menatapku.
“Kaubilang kau tidak menyukainya! Kaubilang kau hanya menganggapnya adik! Dan kau sangat tahu perasaanku padanya!”
“Tiwi….” Deswita tetap menatapku. “Aku sudah berulang kali menolak pernyataan cintanya, karena aku hanya menganggapnya adik, percayalah.”
“Lalu kenapa akhirnya kau terima cintanya?”
“Ia bilang ingin diberi kesempatan untuk masa percobaan….” Deswita menatapku dengan bola matanya yang hitam dan meneduhkan. “Setelah aku putus dengan Farhan, ia terus menghiburku. Lalu ia bilang padaku bahwa ia menyukaiku sejak pertama kali bertemu, namun mulai jatuh cinta padaku saat aku memberinya kue ultah dan kado. Ia terharu dan salah paham akan perhatianku itu….” Deswita tersenyum. “Aku ingin mencoba mencintainya, Tiwi.”
Aku menarik napas, mencoba menahan airmataku yang hampir tumpah. “Baiklah, aku mengerti.” Lalu aku langsung pergi meninggalkan Deswita yang duduk termangu di bangku taman kampus.

Malamnya aku melihat Deswita dan Randika berduaan di taman kampus. Hatiku terasa sakit melihatnya. Dengan menahan airmata kuucapkan selamat pada mereka berdua. Lalu aku permisi ke kantin. Airmataku kembali menetes untuk kesekian kalinya.
“Tegar, dong, Tiwi.”
“Aku nggak bisa secepat itu tegar, Na. Aku ingin pulang kampung lagi, menenangkan diri.”
“Pengecut.”
“Apa kaubilang?”
“Jangan lari dari masalah! Kau harus hadapi kenyataan, kalau kau kalah bersaing dengan Deswita. Lagipula…masih banyak cowok yang jauh lebih baik dari Randika.”
Aku menatap Hana dengan pandanganku yang buram karena airmata. Aku melihatnya berdiri tenang, mencoba mencari tahu isi hatinya. Mungkin ia lebih sakit hati dariku? Bagaimana ia bisa bersikap tenang begitu? Bagaimana cara Hana menyembunyikan isi hatinya yang galau? “Butuh waktu untuk memulihkan rasa sakit hatiku….”

Malam itu aku tidak bisa tidur. Lalu keesokannya aku menemui Deswita. “Kalian memang pacaran, tapi izinkan aku untuk menyukai Randika.”
“Tiwi, jangan begitu….”
“Aku takkan mengganggu. Jadi biarkan aku mencintainya. Sampai aku menemukan cinta yang lain.”
“Baiklah, terserah kau saja.” ucap Deswita akhirnya, dengan sedikit rasa cemburu.

Aku tersenyum. Lalu aku permisi ke kantin untuk membeli es teh manis, sekedar menghilangkan kegugupanku. Di sana aku bertemu Randika yang sedang makan siang.
“Kau belum pedekate juga pada Key?”
“Ah…aku malas untuk berpacaran….” dalihku.
“Sekarang ini ada lelaki yang sedang menyukaimu dan mengharapkanmu. Kenapa tidak menyambutnya? Nanti giliran kau mulai menyukai Key, Key malah berpaling pada cewek lain dan meninggalkanmu.”
“Sadis sekali kata-katamu.” Aku agak takut juga mendengar nasihatnya.

Randika tertawa. “Percayalah padaku.”
“Aku tidak ingin terburu-buru…biar waktu yang menjawab, Dika.”
Randika mengangkat bahu lalu melanjutkan makannya. Aku tersenyum memerhatikan Randika yang makan. “Apa, lihat-lihat? Sana pergi, ganggu orang makan saja.” Randika pura-pura mengusirku. Aku tertawa lalu aku pergi meninggalkannya menuju kelas untuk kuliah.
Tidak apa-apa kan jika aku mencintai Randika? Mungkin aku bodoh, tapi saat ini aku masih ingin mencintainya, masih ingin mengobrol dan bercanda dengannya, menikmati ucapannya yang pedas serta nasihat-nasihatnya yang meyakinkanku….

TAMAT

Oleh : Codet
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

Cerpen Kehidupan PERADILAN RAKYAT

Rabu, 27 Agustus 2015





Cerpen Kehidupan PERADILAN RAKYAT




Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***

Oleh : Putu Wijaya
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

Kumpulan Cerita Lucu MURID (SD) DENGAN GURUNYA

Rabu, 27 Agustus 2015





Kumpulan Cerita Lucu
MURID (SD) DENGAN GURUNYA



Anto yang duduk dibangku SD ditanya Bu Fanny, Gurunya
Bu Fanny : Anto, ada 5 bebek yang lagi mencari makan disawah. Kalo ditembak pemburu,
kena satu yang tinggal berapa ?
Setelah berpikir sejenak, si Anto menjawab “Ga ada sisanya bu ”
Bu Fanny bertanya “kenapa ga ada sisanya ?”
Si Anto menjawab” yang lain terbang semua karena kaget”
Bu Fanny tersenyum bijak dan berkata “yah, sebetulnya bukan itu jawabannya. tapi saya suka cara
berpikir kamu ”
Kebiasaan Makan di Pesawat

Kebiasaan makan dipesawat terbang …….
Bila selesai makan, garpu dan sendok :
1. disilangkan = penumpang dari Amerika
2. sejajar = penumpang dari benua Eropa
3. Sejajar diluar piring = penumpang dari Jepang
4. hilang = penumpang dari Indonesia

Kamu mengaku saja

Seorang guru Sejarah memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya,
“Anak-anak, siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945?”
Murid-murid semua diam seribu bahasa. Karena hingga menjelang usai jam pelajaran belum satu murid pun menjawab, sang guru marah dan akhirnya menghukum seluruh muridnya berjemur di lapangan upacara hingga sore hari. Salah seorang murid tersebut, sebut saja Anto, tiba di rumah dengan menangis tersedu-sedu. Ayahnya yang keheranan bertanya,
“To, kenapa kamu? Berkelahi?”
Anto menjawab, “Bukan Pak, tapi kami dihukum jemur oleh pak Guru.” Ayahnya bertanya lagi, “Kenapa sampai dihukum?”
Anto menjawab, “Kami tidak menjawab siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945, pak” Tiba-tiba muka sang Ayah merah padam dan menampar anaknya itu sembari menghardik,
“Kenapa tidak mengaku saja kamu yang menulisnya!!!”

Indonesia tetep canggih

Dalam rapat perkembangan teknologi abad-21, ada utusan dari indonesia, jepang dan amerika. Amerika melihatkan kemajuan teknologinya.
Saat ada telpon masuk, Amerika tidak lagi menggunakan hp, tapi memegang kancing bajunya dan berbicara.
Orang Indonesia heran “Wuih gila loe yach, bisa kayak gitu”
Orang jepang langsung nyeletuk, “Wach punyaku lebih gila lagi nich….”dan kemudian dengan jari jempol dan kelinking orang jepang itu menelpon rekannya, ck..ck…’ memang gila nich…,”kata orang indonesia itu dengan rasa kagumnya. akhirnya orang indonesia ini bingung, apa yang akan ditunjukkan kepada kedua rekannya itu. tiba-tiba orang indonesia ini menggetarkan badannya dan matanya merem melek. orang amrik dan jepang bingung, lantas bertanya,” hi..hi… kamu sedang ngapain…..”
“Hus diam !!! fax sedang masuk nich….!!!” kata orang indonesia

Hitam segalanya

Alkisah di negara Afrika sana, manusia yang paling hitam adalah yang paling hebat! Hitam dalam arti hitam segala-galanya, itulah Negro Sejati! Ada 3 orang anak kecil yang sedang membandingkan kehitaman Bapaknya.
Anak yang ke 1 : ” Babe gue kemarin sedang ngupas Apel, eh..tangannya
terluka, DARAH nya HITAM!!!!…
Anak yang ke 2 : “Papi ku kemarin sedang benerin Parabola,eh..terjatuh
sampai patah tulang, TULANG nya HITAM !!!”
Anak yang ke 3, nggak mau kalah hebat : “Hm.. itu belum seberapa,tadi
malam waktu kami sedang nonton TV diruang keluarga, tiba-tiba Bokap
gua KENTUT, …..e-eh,…tiba tiba seluruh ruangan jadi GELAP !!!!!!”

Jangan besar-besar dong

Para santri di suatu pondok pesantren masing-masing memelihara beberapa ekor ayam. Suatu hari pak Ustadz ingin mengetahui bagaimana reaksi salah seorang santrinya bila satu ayamnya dicuri. Maka suatu malam ayam peliharaan si Muhaemin diambil diam-diam, dipotong, kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada semua santri.
Esok harinya, Muhaemin melapor kepada gurunya. “Pak Ustadz, tadi malam ayam peliharaanku dicuri orang.”
Pak Ustadz menjawab, “Sudahlah, jangan bersedih. Ayammu itu kan pada hakikatnya milik Allah yang dititipkan kepadamu.”
Muhaemin mengangguk-angguk kemudian ngeloyor pergi sambil garuk-garuk kepala. Dia berniat memberikan pembalasan kepada ustadznya itu.
Pada keesokan harinya, dia mencuri kambing milik pak Ustadz, dipotong,
disate, kemudian dibagi-bagikan kepada semua penghuni pondok pesantren. Malam itu terjadi pesta makan sate yang begitu meriah.
Esok pagi, pak Ustadz marah bukan kepalang melihat kambing miliknya
dicuri orang. Dikumpulkannyalah semua santrinya sambil menghardik,
“Hayo mengaku, siapa yang mencuri kambing saya kemarin?”. Semua
santri diam ketakutan. Tak lama kemudian Muhaemin bertanya, “Pak Ustadz, bukankah kambing yang hilang itu pada hakikatnya adalah milik Allah?”
Pak Ustadz menjawab, “Punya Allah sih punya Allah … tapi jangan yang besar-besar dong!”


Dikira kotak obat

Pasien : Dok, tolonglah sembuhkan penyakit saya. Saya sering berjalan di waktu tidur.
Dokter : Ini kotak yang bisa menyelesaikan persoalanmu. Setiap malam, ketika Anda sudah bersiap untuk tidur keluarkan isi kotak itu dan taburkan di lantai sekeliling tempat tidurmu.
Pasien : Kotak apa ini, Dok? apakah sejenis serbuk penenang?
Dokter : Bukan. Ini kotak paku payung.

Saya kira ABRI

Seorang tua penduduk di pinggiran Los Palos, Timor Timur, bernama Manuel sedang sakit berat. Ia tengah berbaring di ranjang kayunya. Tiba-tiba terdengar ketukan keras pada pintu luar.
“Siapa itu yang di luar?,” teriak Manuel dengan ketakutan.
“Saya Malaikat Maut!”
“Oh, syukurlah. Saya kira yang datang anggota ABRI.”

Masalah dengan dengkuran

Pasien : Dok, saya mendengkur kalau tidur
Dokter : Apakah dengkurannya keras sekali?
Pasien : Iya dok, keras sekali.
Dokter : Apakah itu mengganggu istrimu?
Pasien : Saya tidak menikah dok.
Dokter : Jadi anda tidur sendiri. Saya kira itu tidak menjadi masalah.
Pasien : Tidak menjadi masalah? saya sudah dipecat kerja 5 kali gara-gara dengkuran saya itu.


Mengisi biodata

Seorang karyawan sebuah perusahaan merasa sangat gembira setelah mendapatkan kabar bahwa ia terpilih utk mewakili perusahaanya guna mengikuti suatu seminar di luar negeri. Setibanya di lokasi seminar, para
peserta seminar diberi lembar isian oleh panitia yg isinya ttg biodata peserta :
“Saudara sekalian, tolong isi biodata anda guna keperluan penerbitan sertifikat stl seminar ini selesai”
“Silahkan saudara saudara mengisi pada kolom yg tersedia sesuai dg jawaban anda masing masing”
Dengan tenang sang karyawan tsb mengisi kolom demi kolom sampai selesai dan mengembaikannya pd panitia. Sambil menunggu bbrp peserta lain yg masih mengisi lembaran biodata, sang karyawan yg sedang penasaran mencoba bertanya kpd rekan disebelahnya dr Inggris yg juga sudah selesai mengisi lembarannya :
“Apa yg anda isikan pd kolom sex, tadi”
Dengan bingung si Inggris menjawab “Tentu saja saya isi male, emangnya anda mengisi apa?”
“5 times a week” jawab karyawan tsb.

Buang air seperti biasa

Ini merupakan percakapan antara dokter dengan seorang pasien yang kena muntaber.
Dokter : Sakit apa,…?
Pasien : Anu dok,… mual-mual dan muntah-muntah.
Dokter : Buang air besarnya bagaimana,…?
Pasien : Seperti biasa dok, jongkok…

Ada kuda di perut saya

Ada seorang gila di rumah sakit gila sedang bercakap-cakap dengan dokternya, memohon kepada sang dokter agar ia dapat menyembuhkan rasa sakit di dalam perutnya karena menurut Si Gila ada seekor kuda di dalam perutnya.
si Gila : Dok !!, mohon dok..keluarkan kuda ini dari perut saya, rasanya sakiiit sekali dok, saya mohoon dok
Dokter: Mana..sini saya obati (sang dokter menyuntikan obat tidur kepada si gila dan setelah itu ia mengambil kuda berwarna putih dan ditempatkan disamping si Gila yang masih pingsan)
Setelah si Gila siuman…
Dokter: Naah.sekarang kudanya sudah saya keluarkan..kamu bisa tenang dan tidak akan merasakan sakit lagi
Si Gila: Tapi dok….kuda yang ada diperut saya berwarna coklat.

Oleh : Alykerenz
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

Cerpen Cinta KETEGARAN CINTA BERTASBIH

Rabu, 27 Agustus 2015





Cerpen Cinta
KETEGARAN CINTA BERTASBIH



Seorang sahabat, Mimi namanya, kami bersahabat puluhan tahun sejak kami sama-sama duduk di sekolah dasar (SD), selama beberapa tahun itu saya mengenalnya, sangat mengenalnya, Mimi gadis sederhana, anak tunggal seorang juragan sapi perah di wilayah kami, memiliki mata sebening kaca, dan lesung pipit yang manis menawan siapa saja akan runtuh hatinya jika memandang senyumnya, termasuk saya’. dan nilai tambahnya adalah dia seorang yang sangat sholehah, yang patuh pada kedua orang tuanya.

Tetapi Ranu, Don Juan yang satu ini juga sangat menyukai Mimi, track recordnya tidak menggoyahkannya untuk merebut hati Mimi. Sedangkan saya hanya bisa menatap cinta dari balik senyuman tipis ketegaran.
Setiap pagi hari, petugas rutin kantor pos pasti sudah nangkring di sudut rumah besar di ujung gang kampung kami, (rumah Mimi).

Menunggu pemilik rumah membukakan pintu demi dilewati selembar surat warna merah jambu milik Ranu untuk sang pujaan hatinya.

Sedang Mimi yang semula tak bergeming, menjadi kian berbunga-bunga diserang ribuan rayuan gombal milik don juan.

Merekapun pacaran dari mulai kelas 1 SMP bayangkan, hingga menikah. Sebagai tetangga sekaligus teman yang baik, saya hanya bisa mendukung dan ikut bahagia dengan keadaan tersebut. (walaupun hati ini meratap) Apalagi Mimi dan Ranu saling mendukung, dan sama-sama bisa menjaga dirinya, hingga ke Pelaminan,,Insyaallah.

Hingga tiba ketika selesai kuliah, mereka berdua ingin mewujudkan cita-cita bersama, membina keluarga, yang sakinah, mawaddah, dan warohmah.

Namun, namanya hidup pasti ada saja kendalanya, dibalik kesejukan melihat hubungan mereka yang adem anyem, orang tua Ranu yang salah satu anggota di DP….!! itu, menginginkan Ranu menikahi orang lain pilihan kedua orang tuanya, namun Ranu rupanya cinta mati dengan Mimi, sehingga mereka memutuskan untuk menikah, sekalipun diluar persetujuan orang tua Ranu, dan secara otomatis Ranu, diharuskan menyingkir dari percaturan hak waris kedua orang tuanya, disertai sumpah serapah dan segala macam cacian.

Ranu akhirnya melangkah bersama Mimi, setelah menikah, mereka pergi menjauh keluar dari kota kami, Dumai, menuju Pekan Baru, dengan menjual seluruh harta peninggalan kedua orang tua Mimi yang sudah tidak ada, (semenjak Mimi di bangku SMA, orang tuanya kecelakaan). Untuk mengadu nasibnya menuju ke Pekan Baru " Kota Bertuah" Istilah si Mimi dan Ranu.

Cerpen Cinta

Saya hanya dipamiti sekejap, tanpa bisa berkata-kata, hanya saling bersidekap tangan didada dan terharu panjang, Mimi menitipkan salam untuk Ibu yang sudah dianggapnya seperti Ibunya sendiri.

Masih tajam dalam ingatan, Mimi pergi bergandengan tangan dengan sang kekasih abadi pujaan hatinya “Ranu”, melenggang pelan bersama mobil yang membawa mereka menuju "Kota Bertuahnya" Pekan Baru.
Selama setahun, kami masih rutin berkirim kabar, hingga tahun kelima, dimana saya masih membujang dan masih menetap tinggal di Dumai, sedang Mimi entah kemana, hilang tak ketahuan rimbanya, setelah surat terakhir mengabarkan bahwa dia melahirkan anak keduanya, kemudian setelah itu kami tidak mendengar kabarnya, lagi.

Bahkan Ibuku yang sudah berhijrah hampir tiga tahun ini di Pekan Baru tempat kakakku juga tidak bisa melacak keberadaan Mimi, Mimi lenyap ditelan bumi, hanya doa saya dan Ibu serta sahabat-sahabat yang lain yang masih rutin kami panjatkan, untuk keberuntungan Mimi di sana.

Sampai di suatu siang yang terik, di hari sabtu, kebetulan saya berada dirumah karena kantor memang libur dihari sabtu dan minggu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara ketokan pintu dikamar, mbak "Inul" patner kerja (alias Pembantu) kami mengabarkan ada tamu dari Pekan Baru, siapa gerangan pikir saya ketika itu.
Setelah saya temui, lama sekali saya memeperhatikan tamu tersebut, perempuan cantik berkulit putih, tapi bajunya sangat lusuh beserta ketiga anaknya, yang dua laki-laki kurus, bermata cekung terlihat sangat kelelahan, dan seorang bayi mungil dalam gendongan.

Sejenak saya tertegun, lupa-lupa ingat, hingga suara perempuan itu mengejutkan saya " Faris….Faris khan !", sejenak, dia ragu-ragu, hingga kemudian berlari merangkul saya, sambil terisak keras dibahu saya, saat itu saya hanya bisa diam tertegun dan tak tahu mau melakukan apa, dan saya tidak bisa menepis karena hal ini bukan muhrimnya.

Lalu setelah ia puas menangis, pelukan itu baru lepas, ketika kami dikejutkan oleh tangis bayi Mimi yang keras, yang rupanya tanpa kami sadari telah menyakitinya, dan menekan bayi itu dalam pelukan kami. Masyaallah !.semoga Allah mengampuni…..

Saya menjauhkannya dari bahu saya sambil masih ragu, berguman pelan "Mimi…Mimikah ?" Masyaallah…!, sekarang giliran saya yang ingin merangkul Mimi, tapi karena syari’at masih membayang dibatin. Aku hanya bisa bersidekap tangan didada tanpa bisa meluapkan perasaanku melihat kondisinya. Anak-anak Mimi yang melihat kami hanya termangu,

Mimi terlihat lebih tua dari usianya, namun kecantikan alaminya masih terlihat jelas, badannya kurus, dengan jilbab lusuh, yang berwarna buram, membawa tas koper berukuran besar yang sudah cuil dibeberapa bagian, mungkin karena gesekan atau juga benturan berkali-kali, seperti orang yang telah berjalan berpuluh-puluh kilometer.

Tanpa dikomando saya langsung mempersilahkan Mimi masuk kedalam rumah, membantu membawakan barang-barangnya, dibantu mbak Inul, meletakkan barangnya di ruang tamu, rumah saya.
Menunda beberapa pertanyaan yang telah menggunung dipikiran saya, Saya menatap dalam-dalam, Mimi sedemikian berubahnya, perempuan manis yang dulu saya kenal kini terlihat sangat berantakan, Masyaallah !, Mimi …ada apa denganmu!.

Saya menunda pertanyaan saya, hingga Mimi dan anak-anaknya mau saya paksa beristirahat beberapa hari dirumah saya, ia tidur dikamar ibu yang sudah dirapikan mbak Inul, saya rindu padanya, dan juga terharu melihat keadaannya.

Beberapa hari beristirahat dirumah saya, saya baru berani menanyakan tentang kabar keadaannya sekarang. Kami duduk diruang tamu sambil cerita ringan.

Semula Mimi terdiam seribu bahasa pada saat saya tanya keadaan Ranu, matanya berkaca-kaca, saya menghela nafas dalam, menunggu jawabannya lama, dalam hitungan menit hingga keluarlah suara parau dari mulutnya…

"Mas Ranu, Ris….sudah berpulang kepada-Nya lima bulan yang lalu".
"Oh" desah saya pelan, kata-kata Mimi membuat saya tercekat beberapa saat, namun sebelum saya sempat menimpali, bertubi-tubi Mimi menangis sambil setengah meracau "Mas Ranu kena kanker paru-paru, karena kebiasaannya merokok tiga tahun yang lalu, semua sisa peninggalan orang tuaku sudah habis terjual ludes, untuk biaya berobat, sedang penyakitnya bertambah parah, keluarga mas Ranu enggan membantu, kamu tahu sendiri khan, aku menantu yang tidak diinginkan, dan ketika Mas Ranu meninggal, orangtuanya masih saja membenciku, mereka sama sekali tidak mau membantu, aku bekerja serabutan di Pekan Baru, Ris.., mulai jadi tukang cuci, pembantu rumah tangga, dsb, hingga Mas Ranu meninggal, keluarganya, hanya memberiku uang sekedarnya untuk penguburan Mas Ranu, hingga aku terpaksa menjual rumah tempat tinggal kami satu-satunya, dan dari sana aku membayar semua tagihan rumah dan hutang-hutang pada tetangga, sisanya aku gunakan untuk berangkat ke Dumai, aku tidak sanggup mengadu nasib disana Ris…." Kata-kata Mimi berhenti disini, disambut isak tangisnya, sedang saya yang sedari tadi mendengarkan tak kuasa juga menahan haru yang sudah sedari tadi menyesak di dada.

Setelah kami sama-sama tenang, saya bertanya pada Mimi " Lalu apa rencanamu, Mimi ?".
Mimi tertegun… dia memandang saya nanar, saya menundukkan pandangan, karena saya takut terbawa rayuan syetan. kemudian dia mengulurkan tangan, memberikan seuntai kalung emas besar, "Sisa hartanya " begitu kata Mimi.

"Ini untukmu Ris.., aku gadaikan padamu, pinjami aku uang untuk modal usaha, dan kontrak rumah kecil-kecilan, aku tidak mau merepotkanmu lebih dari ini Ris..".

Aku yang menahan haru, sontak mataku langsung mengalirkan sesuatu, walaupun aku lelaki, namun hati ini bertindak sebagai makhluk tuhan yang berperasaan. kembali kami hanyut dalam haru.
Pelan-pelan saya, meraih kalung itu dari meja, menimbang-nimbang, pikiran saya melayang menuju sisa uang saya di amplop, dalam tas, Jum’at kemarin saya baru saja mendapat lembur-an, sebagai pegawai di suatu instansi, nilai lembur saya sangatlah kecil jika dibandingkan dengan pegawai yang lain tentunya, tapi itulah sisa uang saya, saya mengeluarkan amplop tersebut dari dalam tas, di kamar, semua saya infaqkan untuk Mimi, semata mata karena ikhlas.

Mimi menatap amplop di tangan saya, sejurus kemudian saya meletakkan amplop tersebut diatas meja sambil berkata "Ini sisa uangku Mimi, kamu ambil, nanti sisanya, biar saya pikirkan caranya, kamu butuh modal banyak untuk mulai usaha"

Keesokan harinya, saya menjual kalung Mimi, pada sahabat baik saya yang lain, kebetulan ia seorang pemodal-muslim, yang baik hati,.. "Thanks ya Hans".., saya menceritakan tentang keadaan Mimi pada mereka, Hans dan Istrinya banyak membantu " Ya Allah limpahilah berkah pada orang-orang baik seperti mereka".

Singkat cerita, Mimi bisa mulai usahanya dari modal itu, mengontrak rumah kecil didekat rumah saya, Alhamdulillah !, sekarang ditahun kedua, usahanya sudah menampakkan hasil, Mimi sudah sedemikian mandiri, banyak yang bisa saya contoh dari pribadinya yang kuat yaitu Mimi adalah pejuang sejati, ulet, sabar, dan kreatif.

Kuat karena Mimi enggan bergantung pada orang lain, dan tegar karena diterpa cobaan bertubi-tubi, Mimi tetap, kokoh, dan tidak bergeming sedikitpun, dia juga Smart, tahu dimana dia harus meminta pertolongan pada orang yang tepat, dan tentu saja muslimah yang taat beribadah, hingga Allah pun tak enggan membantunya.

Saya hanya berpikir dan yakin pasti ada jutaan Mimi-Mimi, diluar sana, akan tetapi pastinya sangat jarang yang melampui cobaan bertubi-tubi seperti dirinya dengan Indahnya.

Saya hanya ingin berbagi…..cobalah kita lihat, Mimi tetangga saya kini dan setiap pagi selalu menyapa riang saya, wajah cantiknya kembali bersinar, meskipun ia menyandang status janda. Yang kemudian dia tekun mendengar keluh kesah saya pada setiap permasalahan saya hadapi setiap harinya, termasuk ketika saya mulai mengeluh tidak betah dikantor sebagai pegawai sekian tahun, atau ketika saya menghadapi badai kemelut usia yang yang sudah berkepala tiga, apa kata Mimi

"Faris, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan seseorang atau Allah lebih tahu apa yang terbaik bagimu, sedangkan kamu tidak".
Subhanallah ! Mimi, contoh kekuatan wanita muslimah, ada disana.
Dan jika saya sudah menyerah kalah pada permasalahan bertubi-tubi dalam hidup saya, maka Mimi membawa saya menuju pintu rumah mungilnya, didepan pintunya, saya melihat kepulasan tidur anak-anaknya di ruang tamu yang ia jadikan ruang tidur, sedangkan kamar tidur ia jadikan dapur untuk memasak, (sungguh rumah yang mungil) mereka berjejal pada tempat tidur susun yang reyot, dan juga tempat tidur gulung kecil dibawahnya, tempat si sulungnya tidur, kemudian katanya, "Lihatlah Ris, betapa berat menjalani hidup seorang diri, tanpa bantuan bahu yang lain, kalau tidak terpaksa karena nasib, enggan aku menajalaninya, Ris, sedang kamu, bersyukurlah kamu, masih memiliki masa depan yang panjang ".
Duh, gusti betapa baik hati Mimi ini, betapa malu saya dihadapannya, cobaan saya, tentu jauh lebih ringan dibanding dirinya, tapi betapa saya jarang bersyukur, sering mengeluh, dan sering merasa kurang.
"Stupid mind in the Stupid ordinary " Yang jelas watak Mimi dan kekuatannya menumbuhkan satu prinsip dihati saya bahwa " Karena aku adalah lelaki, aku harus  kuat dan tegar lebih dari wanita ini dalam menghadapi badai sekeras apapun, jika mungkin jauh lebih kuat dan tegar demi tangan-tangan mungil yang mungkin akan menjadi tangan-tangan perkasa yang siap mencengkram dunia, Insyaallah Amien"
Singkat cerita, saya pun berhenti dari pekerjaan yang lama, sekarang saya bekerja lebih mapan dari yang dulu. Karena setiap pulang kerja saya melintas didepan rumah Mimi, dan terus memperhatikan ketegarannya, akhirnya Allah menumbuhkan kembali cinta dihatiku. Sampai suatu saat aku pun melamarnya agar hubungan kami dihalalkan oleh syari’at. Mimi hanya bisa menunduk malu dan tersenyum melihat anak-anaknya yang akan memiliki ayah yang baru. Dalam hati, Mimi bertakbir dan bertahmid melihat kekuasaan Allah..
Allahu Akbar….

Oleh : Rudi Al-Farisi
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

Senin, 24 Agustus 2015

Kata Mutiara INSPIRATIF

Senin, 24 Agustus 2015





Kata Mutiara 
INSPIRATIF


Tak seorang pun sempurna.
Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.
Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah
 Bila kita mengisi hati kita dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan,kita tak memiliki hari ini untuk kita syukuri.
Pikiran yang terbuka dan mulut yang tertutup, merupakan suatu kombinasi kebahagiaan
.Semakin banyak Anda berbicara tentang diri sendiri,
semakin banyak pula kemungkinan untuk Anda berbohong.
Jika Anda tidak bisa menjadi orang pandai, jadilah orang yang baik.
Iri hati yang ditunjukan kepada seseorang akan melukai diri sendiri.
Anda cuma bisa hidup sekali saja di dunia ini,
tetapi jika anda hidup dengan benar,sekali saja sudah cukup.
Kenangan indah masa lalu hanya untuk dikenang, bukan untuk diingat-ingat.
Rasa takut bukanlah untuk dinikmati,tetapi untuk dihadapi. 
Orang bijaksana selalu melengkapi kehidupannya dengan banyak persahabatan.
Buka mata kita lebar-lebar sebelum menikah,
dan biarkan mata kita setengah terpejam sesudahnya
 Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya
 Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran.
Dialah hiasan dikala kita senang dan perisai diwaktu kita susah
Namun kita tidak akan pernah memiliki seorang teman,
jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.
Karena semua manusia itu baik kalau kita bisa melihat kebaikannya
dan menyenangkan kalau kita bisa melihat keunikannya
tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan
kalau kita tidak bisa melihat keduanya.
Semulia-mulia manusia ialah siapa yang mempunyai adab,
merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi,
memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat.
Sesungguhnya sebagian perkataan itu ada
yang lebih keras dari batu,lebih tajam dari tusukan jarum,
lebihpahit daripada jadam dan lebih panas daripada bara.
Sesungguhnya hati adalah ladang,
maka tanamkanlah ia dengan perkataan yang baik
karena jika tidak tumbuh semuanya (perkataan yang tidak baik)
niscaya tumbuh sebagiannya
Tidak ada simpanan yang lebih berguna
daripada ilmu.
Tidak ada sesuatu yang lebih beruntung daripada adab.
Tidak ada kawan yang lebih bagus daripada akal.
Tidak ada benda ghaib yang lebih dekat daripada maut.

Oleh : Putra Kamdal
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

KATA~KATA MUTIARA

Senin, 24 Agustus 2015





KATA~KATA MUTIARA



Bertutur dengan kata yang baik, berpikirlah dengan
niat yang baik dan melakukan perbuatan baik.
Memaafkan orang lain berarti berlaku baik pada diri
sendiri.
Kesuksesan adalah pengoptimalan suatu kelebihan,
kegagalan adalah akumulasi dari segala kekurangan.
Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap
orang memiliki kemungkinan yang tak terhingga.
Ilmu pengetahuan harus dipahami dengan
sungguh-sungguh, baru bisa menjadi kebijaksanaan dalam
diri sendiri.
Kasih sayang tidak dapat dengan memohon pada orang
lain, melainkan diperoleh dari sumbangsih yang
diberikan.
Musuh terbesar kita bukanlah orang lain, melainkan
diri kita sendiri.
Hendaknya bersaing untuk menjadi siapa yang lebih
dicintai, bukan siapa yang lebih ditakuti.
Menyia-nyiakan waktu setiap hari adalah pemborosan
hidup, bekerja penuh semangat dan menjadi orang yang
berguna adalah membangun kehidupan kita sendiri.
Orang yang selalu mencari-cari alasan bagi
kegagalannya, tidak akan memperoleh kemajuan untuk
selamanya.
Rumput tidak akan mudah tumbuh dilahan yang
ditanami sayur-sayuran. Hati tidak mudah timbul
kebencian bila dipenuhi rasa persahabatan.
Berapa banyak kewajiban yang telah anda penuhi,
sebanyak itu pula kemampuan yang akan diperoleh.
Kegembiraan seseorang tidak didasarkan dari berapa
banyak yang dimilikinya, namun karena sedikit sekali
berhitungan dengan orang lain.
Sebelum mengkritik orang lain, pikirkan dahulu
apakah kita sendiri telah sempurna dan bebas dari
kesalahan.
Kesuksesan yang paling besar dalam hidup adalah
bisa bangkit kembali dari kegagalan.
Ucapan yang baik, bagai bunga teratai yang keluar
dari mulut; Ucapan yang buruk, seperti bisa ular yang
disemburkan dari mulut.
Ada dua hal yang tidak bisa ditunda dalam
kehidupan: berbakti pada orang tua dan melakukan
kebajikan.
Moralitas adalah sebuah pelita dalam peningkatan
kepribadian, tidak seharusnya merupakan cambuk
penghukum bagi orang lain.
Menghargai dan merasa senang atas keberhasilan
orang lain berarti meningkatkan harkat diri sendiri.
Selalu berbaik hati selalu memperoleh hari-hari
yang baik.
Memberi maaf dan berbicara dengan ramah meskipun
kita berada dipihak yang benar.
Menerima kebajikan sekecil apapun harus dibalas
sebesar-besarnya.
Hendaknya kita menyadari, mensyukuri, dan membalas
budi orang tua.
Tetesan air dapat membentuk sebuah sungai,
kumpulan butiran beras bisa memenuhi lumbung. Jangan
meremehkan hati nurani sendiri, jangan pernah berpikir
untuk tidak melakukannya walau perbuatan itu sangat
kecil.
Sedikit berbicara lebih baik daripada banyak
bebicara, akan lebih baik lagi jika hanya membicarakan
hal yang baik-baik saja.
Orang yang bijaksana baru mampu membedakan yang
baik dan yang buruk, yang benar dan yang sesat; Orang
yang rendah hati baru bisa membangun kehidupan yang
indah sempurna.
Di dalam kehidupan, kita tidak selalu berada dalam
kondisi yang baik-baik saja, namun bagi yang pernah
mengalami cobaan dan berhasil mengatasinya, akan
sangat mudah menghadapi kondisi yang sesulit apapun.
Permasalah sukar dan sulit diputuskan dalam hidup
adalah suatu cobaan.
Kasih sayang yang sesungguhnya adalah menjaga
kondisi hati kita dengan sebaik-baiknya.
Mampu bertoleransi dan lebih mengasihi orang lain,
kita akan hidup dengan sangat gembira.
Mampu menyumbangkan cinta kasih adalah suatu
keberkahan. Mampu menghapus kerisauan adalah sifat
yang bijaksana.
Anggaplah segala permasalahan sebagai pelajaran
dan pujian sebagai peringatan untuk mawas diri.
Memperbaiki prilaku sendiri adalah untuk menolong
diri sendiri, mampu mempengaruhi orang untuk berbuat
baik adalah untuk menolong orang.
Yang mencelakai diri sendiri tidak lain adalah
kemarahan yang tidak pada tempatnya.
Orang yang dapat memanfaatkan waktunya dengan
baik, pasti bisa menguasai arah tujuan yang ingin
dicapai.
Lakukanlah menurut kemampuan yang ada, jangan
berniat untuk menunda, ada kemungkinan anda tidak
mendapatkan apa apa.
Yang terindah di langit adalah bintang-bintang
bergemerlapan, sedangkan yang terindah dalam hidup
adalah kehangatan kasih sayang.
Orang yang berbudi sifatnya bagaikan air yang
dapat menyesuaikan diri dalam berbagai bejana, hidup
dalam kondisi bebas leluasa.
Padi yang berisi akan semakin merunduk; Seseorang
yang sukses semakin rendah hati.
Berhenti di tengah perjalanan akan lebih sulit dan
terasa lebih melelahkan daripada terus berjalan hingga
sampai ke tujuan.
Di kala memiliki, harus selalu mengenang
penderitaan di saat tak punya; dalam cuaca baik harus
mempersiapkan persediaan di musim hujan.
Alam semesta ada batasnya, kekuatan tekad kita ak
terhingga. Mudah mengikrarkan sebuah tekad, tapi sulit
melaksanakannya.
Perbuatan baik hendaknya bisa dioptimalkan,
permasalahan harus ditinggalkan. Mensukseskan orang
lain berarti mensukseskan diri sendiri.
Lebih baik bekerja keras dan benar-benar
melakukannya daripada berkemampuan tapi tidak
melakukannya sama sekali.
Orang harus menyayangi diri sendiri baru dapat
mencintai semua orang di dunia.
Dalam mengatasi berbagai masalah hendaknya
berhati-hati, cermat, namun jangan berpikiran sempit.
Jangan merasa khawatir pada banyaknya masalah,
yang dikhawatirkan adalah masalah yang dicari-cari.
Ikrar harus luhur, tekad harus kokoh, kepribadian
harus lemah lembut, dan hati harus cermat.
Berikrar dalam hati dan tidak pernah menyatakan
dalam tindakan, sama halnya seperti bertani tanpa
menebar bibit, hanya menyia-nyiakan sebuah jalinan
jodoh.
Orang berbudi berketetapan hati menggapai
cita-citanya, orang yang picik hanya memiliki
cita-cita dan tidak pernah berusaha.

Oleh : Putra Kamdal
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

KENANGAN PAHIT

Senin, 24 Agustus 2015





KENANGAN PAHIT



Kini hanya ada sebuah kenangan yang penuh dengan luka…
kau yang selalu jadi inspirasiku, motivasiku, dan semangat hidupku…
telah hilang begitu saja…
bagaikan debu yang di hembus angin tanpa sisa…
setiap malam ku slalu merindukanmu..
ku slalu berharap kau ada disisiku…
buat menemaniku di malam yang begitu sunyi…
v semuanya hanyalah khayalan yang tak pernah tercapai…
aku slalu berdoa sama yg kuasa…
semoga kau slalu tersenyum dgn kbahagianmu..
aku gak mau melihatmu terluka…
krna lukamu akan memberikan luka yg begitu dalam bagiku…
jalani hari-harimu dengan senyuman yea…
krna senyumanmu adalah anugrah terindah yang pernah aku miliki…
I  Love  You…Ricka,....

Oleh : Ali Nuddin
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

LUKA HATI

Senin, 24 Agustus 2015





LUKA HATI



Kesedihanku karena kamu
tangisanku karena kamu
deritaku karena kamu
hidup ini tak berarti pun karna kamu
karena kamu pun harapanku musnah
karena kamu pun hidupku sirna
sesengguhnya hanya kamu yank bisa bikin aku tersenyum
sesungguhnya hanya kamu yank bisa bikin aku tertawa
sesungguhnya hanya kamu yank bisa bikin aku bahagia
sesungguhnya hanya kamu yank bisa bikin hidupku berarti
dan kamu satu satunya harapanku
dan kamu satu satunya orank yank bisa bikin hidupku sempurna
namun kau tak pernah bisa mengerti isi hatiku
sehingga kau tak membalas cintaku
dan semuanya pun sirna
hanya luka yank kudapat darimu

Oleh : Aly Nuddin
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

Minggu, 23 Agustus 2015

LUKA HATI, KU GENGGAM SENDIRI

Minggu, 23 Agustus 2015





LUKA HATI, KU GENGGAM SENDIRI



Indah tirai senja telah merayap
Dengan perlahan kedalam dinding hati
Indahnya sejarah silam tatkala
Terurai kembali disela waktu

Terlena hati dalam buaian kidung rindu
Gelora rasa serasa merajai seluruh isi kalbu
Meskipun diri ini tak tahu arti semuaini
Secawan cinta kini teah membuatku mabuk
Kepayang di dlam gurauanmu

Kini aku hanya bisa menyulam hati
Dalam rajutan asmaradhana
Yang telah terpenggal dalam pasungan
Sang kekasih hati
Hingga degup jantung pun kian lirih
Akan lukisan cinta dlam hati
Yang  menguraikan kisah cinta

Luka memar yg mesti kugenggam
Meskipun kerap disudut hatiku merintih
Akan jalinan cinta yg tak terhias warna
Seribu kebimbangan iringi langkah
Yang tlah terlalui oleh airmata

Tirai indah pun kian memudar
Mengukir seribu tanya yang melukiskan
Keraguan akan adanya jalinan cinta
Mampukah ku bertahan dlam jalinan cinta ini?
Haruskah diri ini larut dlamtelllaga cinta?
Biarlah luka hati ku gengam dlam
Kesendirianku


Biarlah kutapakkan langkah
Disimpang jalanmeskipun enggan
Kutatap terpaksa ku melangkah
Di titian-titian malam

Oleh : Ali Nuddin
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

RASA PERIH HATI INI

Minggu, 23 Agustus 2015





RASA PERIH HATI INI



Keheningan malam ini yang membuatku sedih
sembilu rasa mengiris pedih di relung hati
bathin teriak dan ingin tumpahkan segudang tangis
mengapa jadi perih hati yang sakit dan terasa miris
Ragam rasa berkecamuk di dalam jiwa
Galau dan gundah mengelayuti sukma
Meradang dan Kecewa akibat dusta dan sandiwara
Pandanganku melayang jauh ketatapan hampa
Imajinasi melayang bersama rasa luka dan Nestapa
Pedih…Hati ini
mengapa jadi pedih yang kurasakan
Mengapa jadi sepi dalam hiruk pikuk keramaian
mengapa berubah jadi kesunyian dan kepiluan
mengapa semua menjadi tak indah tuk kupandang
Aku terpaku sendirian dalam pekat malam .
Terkurung dalam dekap risau kegalauan
Terkungkung dalam kepedihan dan kesedihan
Terpasung di sudut derita cinta asmara
Kegundahan telah membunuh rasa kantuk
mungkin kuterjaga semalam suntuk
Kegelisahan ini membutakan mata hatiku
menjauhkan pikiran dari realita kebenaran
dalam hening sunyi ku berlari menerjang kehampaan
dalam duka kucoba menyibak kesalahan dan kekhilafan
dalam Nestapa ku coba bertahan dan temukan jalan
dalam asa kuberharap dapatkan kebahagiaan…..
______________Semoga._______________

Oleh : Ahmad Nasir
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

TERINGAT DIRIMU SELAMANYA

Minggu, 23 Agustus 2015





TERINGAT DIRIMU SELAMANYA



Dalam luang waktu ku coba lupakan
Sejenak memendam kisah lama yang silam
Melihat pelangi yang kini t'lah kelam
Gelap gulita dan sunyi mencekam

Nampak hadirmu dalam ingatan
Terlihat jelas tapi menyakitkan
Walau terasa kau ku dambakan
Membuat aku dalam kesepian

Meski kau ku cinta tapi tak sebaliknya
Kau yang ku puja takkan terlupa
Seringkali kau nampak senangkan
Dan tak jarang kau juga menyakitkan

Kerinduan ini membuatku gila
Kehilangan dirimu sebuah luka
Berangan aku tuk selamanya
Hingga mati pun slalu bersama

Dan mungkin seandainya nanti
Mentari tak bersinar lagi
Kau tetap dan s'lalu disisi
Menemaniku dalam indahnya surgawi

Oleh : Eggady Peterson
Diposkan oleh : Teddy Silvanus

SIRNAH SUDAH ASAKU PADAMU

Minggu, 23 Agustus 2015





SIRNAH SUDAH ASAKU PADAMU



Sirna sudah harap dan pintaku
Selama ini meskipun kerap
Seorang insan ini bertahan demi
Senggenggam cinta dalam merindukanmu
Pupus sudah bunga dalam
Panorama sang pemilik
Pati tat kala sandangi
perisai sunyi
Pudar naungan tak ber tepi
Lirih riuhku kian menyerukan
Langgam tembang sang pemilik
Lautan nestapa tak tersambangi oleh
Lautan kasih sayangmu
Tersiksa hati meratap sayu
Tanpa gurauan dan cerita hanya
Torehan segenggam lara hati
Tikami kesendirianku dalam menitih kehidupan
Biarlah kan ku simpan semua ini
Bersama lembar kenangan yang
Berparas musam dan terkulai pada
Binarnya pinggiran cintaku
Hingga kan datang waktuku nanti

Oleh : Putra jogjya
Diposkan oleh : Teddy Silvanus